Thursday, December 11, 2008

Keep Holding On

Posted by Icha at 5:49 PM
"Akhirnya, sampai titik nadir juga, Cha?"

Itu yang saya ucapkan pada diri sendiri menyadari kejenuhan yang baru terasa. Deadline laporan terus mengejar, tugas-tugas yang tanpa ampun, responsi yang sudah di depan mata, hingga ujian yang tinggal hitungan hari. Semuanya seperti membombardir saya pada waktu bersamaan.

Mmm..... kalau dipikir-pikir, hal-hal yang saya sebutkan di atas seakan jadi tradisi menjelang akhir semester. Kayanya ngga banget ya, tradisi kok modelnya nyeksa begini. Hehe..... Dan yang lebih aneh lagi, udah tau tradisi tapi kita yang menjalani tradisi itu seakan ngga hafal-hafal, jadi ujung-ujungnya ya jenuh terus tiap mau ujian.

Dan sebenarnya, diakui atau tidak pemicu kejenuhan saya bukan itu. Maksud saya bukan laporan, tugas, dan segala tetek-bengeknya. Tapi penyulutnya adalah segala masalah yang justru berasal dari luar kampus. Masalah perasaan, pertemanan, organisasi, sampai PMS. Hehe.... Dan ngga tau kenapa, pada saat-saat inilah Allah SWT ikut memberikan ujian.

Jadi, apa yang sebenarnya cuma tampak sebagai sesuatu yang sepele kadang jadi sesuatu yang lebay buat saya. Kesenggol dikit marah, kenapa dikit nangis. Ngga banget ya jadinya?

Kalau sudah begini, biasanya saya langsung men-dial nomer HP Mama dan curhat habis-habisan tentang pikiran yang lagi mbruwet. Tebak aja apa kata Mama.

"Yang bisa menentukan Mba mau seneng, mau sedih, mau semangat, mau jenuh, itu ya Mba sendiri. Allah ngga akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Jadi yang bisa menyemangati Mba ya diri Mba sendiri. Orang lain hanya memotivasi."

Selalu ini yang diucapkan Mama kalau saya lagi jenuh. Mama ngga nyuruh saya mengingat apa-apa. Ngga menyuruh saya mengingat orang tua kalau lagi malas belajar (karena biasanya orang-orang akan bilang, "Kok kamu males belajar sih? Kasian orang tua kamu yang udah bayarin kuliah mahal-mahal" bla bla bla bla). Mama juga ngga membandingkan saya dengan orang lain yang mungkin lebih semangat daripada saya. Mama cuma meminta saya melihat ke dalam diri saya dan membangun semangat itu mulai dari diri saya.

Inilah yang saya pelajari: mulai dari DIRI SENDIRI. Semua hal harus dimulai dengan niat kuat dari diri sendiri. Ketika saya ngga punya kemauan untuk menyemangati diri sendiri, Allah juga ngga akan mengubah diri saya yang tadinya loyo jadi semangat. Ketika saya punya niat dan kemauan untuk semangat, dilanjutkan dengan berdoa, saya percaya Allah 100% akan mendukung saya dan ikut menguatkan semangat yang sudah saya bangun.

Perasaan saya terhadap seseorang yang jauh di sana, masalah pertemanan yang kadang membuat saya jengkel, laporan, tugas, responsi, semua itu boleh jadi menghempaskan saya ke titik nadir. Tapi dengan niat dan semangat, saya yakin semua akan teratasi.

Sedetik, sehari, selangkah ke depan aku masih bertahan.
Tetap bertahan.

Ya Allah, tetaplah menemaniku.....

0 comments:

 

Confessions of A Not-It Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea