Wednesday, March 28, 2012

Atama ga Itai

Posted by Icha at 7:12 PM
Rasanya sejak awal minggu ini saya lari dengan kecepatan 40 yard/1,2 detik.

Saya baru tau kalau ketika otak berlari, berpikir cepat dan banyak, harus menyusun strategi perang dalam waktu singkat, rasanya bisa sama capenya sama maraton dua ratus kilometer.

Ngos-ngosan.

Saya bukan tipe manusia pecinta olahraga, baik olahraga 'raga' maupun otak. Apalagi otak. That's why saya ngga bisa main catur. Ngga juga deng, catur bukan semata olahraga otak. Catur lebih ke permainan mental, sarat trik psikologis. Harus bisa memprediksi arah pikiran lawan. Terus ujung-ujungnya tau-tau check mate ajah.

Jadi blabbering out ke mana-mana kan.

Semua berawal sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Ada kabar yang luar-biasa-hebat masuk ke inbox e-mail saya. Waktu baca e-mailnya, saya teriak, ngejerit, lari meluk Mama, sujud syukur, ngucap Alhamdulillah berkali-kali, terus loncat-loncat kaya orang kemasukan setan jawa. Total ada kali limabelas menit saya bertingkah begitu.

Setelahnya, saya kembali membaca e-mail dengan seksama, kali ini lebih detail. Saya baca, hayati, resapi tiap kata dan titik komanya. Saya download semua attachments yang disertakan dalam e-mail itu dan saya baca sekilas. Masih biasa saja. Masih kebawa euforia luar-biasa-hebat.

Bencana melanda keesokan harinya. Meski udah tau apa yang harus saya lakukan demi menindaklanjuti kabar luar biasa hebat itu, saya tetep, well, merasa kemrungsung. Saya kembali bercinta dengan Tsubaki-Chan, si merah kesayangan, demi mengeksekusi strategi awal menjalankan misi luar-biasa-hebat ini. Satu jam, dua jam, saya bekerja, tapi otak saya buntu. Euforia sudah hilang, tapi perpindahan irama dari kalem ke 'gerak cepat' berlangsung lebih lama dari dugaan. Jam setengah sebelas siang, saya menyerah. Jadilah saya, Mama, dan Tiza jalan-jalan ke XXI nonton The Hunger Games. Jujur sih, saya emang udah ngebet nonton film ini dari bulan Januari. Dan setelah dua setengah jam yang diwarnai ketegangan, romantisme, dan pria-pria tampan (si macho Liam Hemsworth, si ganteng Josh Hutcherson, dan si hottie Alexander Ludwig), saya harus mengakui kalau film 'salam tiga jari' ini asli EPIC. Ngga nyesel ngeluarin duit 35ribu. Filmnya NAGIH banget!!!!!! Ayo dong, cepetan dibikin sekuelnya!!!!! :DDDD

Malamnya, masih di hari yang sama, saya kembali meneruskan eksekusi misi
luar-biasa-hebat. Dan itu berlangsung sampai hari ini. Pada awalnya saya menikmati pekerjaan yang sejujurnya cuma membuat list itu. Tapi lama-lama saya frustrasi. Gimana sih rasanya bikin daftar sesuatu yang kita pengen tapi ngga nemu yang BENER-BENER kita pengen? Ya begitulah kan?

Untungnya akhirnya saya menemukannya juga. Tadi siang. Good thing to be thankful for. Dan kalau saya mau, saya bisa langsung menindaklanjutinya lagi malam ini. Tapi lagi-lagi. Otak saya sedang ngga mau diajak kompromi. Buntu. Macet kaya Jakarta yang kedatangan anak-anak SuJu, yang otomatis kebanjiran fansnya dari seluruh penjuru negeri. Itu perumpamaan paling mendekati karena saya belum menemukan metafora yang lebih parah.

Saya benci kemrungsung. Bagi saya hidup itu seperti menari. Irama musik ngga selalu cepat. Kadang samba yang menuntut pinggul bergoyang lincah. Kadang tango yang patah-patah, bergerak selangkah-selangkah tapi determinasinya pasti. Kadang juga meminta badan menyesuaikan nada-nada lembut gamelan Jawa, halus, sakral, penuh penghayatan, tidak terburu-buru.

Di sisi lain, menemukan irama sendiri juga menakutkan saya. Saya takut terbuai irama dan jadi ngga cekat-ceket. Mung nyambut gawe, bukan tumandang gawe. Entah kenapa bagi saya dua frase tersebut berbeda artinya. Ntar saya pastiin ke Mama bener atau engganya pemahaman saya selama ini. Anyway, waktu memang ngga mau menunggu. Tau-tau dua jam lagi udah ganti hari. Tau-tau udah H-7 deadline. Makin kemrungsung. Ntar H-1 deadline, makin berantakan. Itulah sebenar-benarnya bencana.

Malam ini saya memutuskan untuk mendinginkan kepala sejenak. Masih ada sangat banyak waktu, tapi Winter Cup ngga akan menunggu. Itu kata anak-anak Deimon Devil Bats. Dan mereka pun rela menjalani neraka latihan di Amerika selama 40 hari. Ya, porsi latihan yang seharusnya dijalani selama dua tahun, mereka lakukan dalam 40 hari. Sama seperti saya. Persiapan misi yang harusnya saya lakukan selama setahun, dipres hanya dalam 30 hari.

Bencana.





Tapi kalau ngga begini, sampai kiamat saya pasti hanya tetap akan jadi Icha yang biasa-biasa saja.

0 comments:

 

Confessions of A Not-It Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea