Thursday, June 21, 2012

Your Song

Posted by Icha at 1:24 PM 1 comments


















Source: here



How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall?





Sunday, June 3, 2012

You (in My Dream)

Posted by Icha at 7:42 AM 1 comments
Source : here


Semalam sebelum tidur, habis baca doa mau tidur dan ayat kursi, saya ngebayangin wajah kamu dan bilang dalam hati.



"Mbok kamu nengokin aku lewat mimpi to. Aku kangen sama kamu."



Lalu saya merem.

Dan.

Kamu datang.




Makasih udah datang. Makasih udah bikin mimpi saya indah.
Walau cuma lewat mimpi, saya bisa ngungkapin apa yang selama ini pengen saya tanyakan dan ucapkan sama kamu.
Makasih ya Allah, udah ngedatengin dia di mimpi saya ^_^




My thoughts will echo your name until I see you again.

Friday, April 6, 2012

The Hunger Games : Awal Trilogi yang Bikin Galau Setengah Mati

Posted by Icha at 2:35 PM 0 comments
Akhirnya setelah sekian lama ngerasa hampa karena tamatnya serial Harry Potter, ada juga buku yang bisa bikin emosi saya campur aduk ngga karuan.
 
Ini yang saya beli versi terjemahannya dan dapetnya yang cover film

Sebenernya saya TELAT BANGET tau soal The Hunger Games trilogy. Terjemahan buku pertamanya terbit tahun 2008 dan saya baru baca tahun 2012!! Saya gemes sama diri sendiri, soalnya saya taunya baru setelah nonton filmnya yang rilis 23 Maret kemaren. Saya nonton trailernya pertama kali pas mau nonton Sherlock Holmes 2 dan setelah itu saya jadi hobi nonton trailer itu di Youtube. Ketagihan. Rupanya keputusan mengeluarkan duit Rp 35.000,00 sangat tepat karena filmnya emang asli EPIC.

Seminggu kemudian saya beli trilogi itu, 3 buku sekaligus karena kebetulan lagi ada diskon. Buku pertama, The Hunger Games, saya selesaikan dalam waktu 2 hari, waktu bersihnya malah mungkin kurang dari 24 jam. Buku yang menurut pengarangnya, Suzanne Collins, terinspirasi dari mitologi Yunani tentang cerita Theseus ini emang recommended banget buat dibaca. Pelajaran hidupnya banyak banget.

WARNING : SPOILER ALERT!!!!!!!! (Kalo ngga mau kehilangan rasa penasaran mending berhenti sampe sini ^_^)

The Hunger Games bercerita dari sudut pandang Katniss Everdeen, protagonis cewek kita, sang tokoh utama. Katniss tinggal wilayah miskin di Distrik 12 di negara Panem (wilayah yang dulunya bernama Amerika Utara) sama ibu dan Prim, adik perempuannya. Karena keluarganya emang miskin, Katniss harus jadi tulang punggung keluarga. Kegiatan rutinnya buat dapet makan sehari-hari adalah berburu di hutan di luar distrik, bareng sahabatnya Gale Hawthorne, bahkan di hari yang paling mengerikan buat seluruh penduduk Panem: Hari Pemungutan.

Hari Pemungutan yang diadain sekali tiap tahun itu selalu jadi awal bencana. Tiap distrik di Panem harus 'mengorbankan' satu cewek dan satu cowok umur 12-18 tahun, yang namanya kesebut di pemungutan itu, buat mengikuti Hunger Games, reality show yang bakal disiarkan ke seluruh negara. Reality show ini adalah bagian dari peraturan penguasa Panem yang totalitarian. Mending kalo reality show-nya semacem Indonesian Idol gitu. Masalahnya di Hunger Games ini para Tribute atau peserta mesti saling bertarung sampai mati, sampai cuma tinggal satu yang jadi pemenangnya. Dan Pemungutan tahun itu ternyata 'memanggil' Primrose Everdeen alias Prim sebagai Tribute cewek. Katniss, yang sayang banget sama Prim di atas segala-galanya seketika mengajukan diri ngegantiin Prim. Belum beres shock-nya Katniss, dia dibikin mumet lagi setelah nama Tribute cowok diumumin. Peeta Mellark. Cowok ini bisa dibilang pernah nyelametin nyawa Katniss (dan keluarganya) satu kali. Pastilah Katniss ngga mau cowok ini jadi orang yang mesti dia bunuh di arena.

Singkat cerita, dua orang ini digiring ke Capitol, ibukota Panem, tempat mereka latihan dan mempersiapkan diri buat Hunger Games. Ketika dia menghadapi Hunger Games, segala-gala yang terjadi di arena juga bikin Katniss bingung, masih ditambah dia harus struggling sama perasaannya sendiri. Di sini Katniss mulai mikir, kalopun dia bisa menang, hidup kaya raya, apa bener semuanya bakal berakhir sampe di situ dan semudah itu?

Selama dua hari baca buku ini, perasaan saya kaya diaduk-aduk. Dengan penuturan cerita dari sudut pandang orang pertama, saya menempatkan diri sebagai Katniss, yang punya tanggung jawab sama keluarganya, yang mengakibatkan dia masuk lebih dalam ke lubang malapetaka. Katniss juga bukan tipe cewek menye-menye. Dia ngga punya romantic affair dengan siapapun. Katniss bahkan ngga kepengen nikah dan punya anak karena takut anaknya bakal dipanggil buat ikut Hunger Games dan mati di sana. Dia membentuk dirinya jadi cewek yang kuat buat keluarganya, walau ternyata secara mental dia tetep butuh orang lain untuk jadi sandaran. Di arena justru Katniss mengenal para Tributes yang menyikapi Hunger Games yang berbeda-beda. Seperti Rue, cewek dari Distrik 11 yang ngingetin Katniss sama Prim. Mereka akhirnya jadi sekutu di arena, menjalin hubungan kakak-adik, dan ketika adegan Rue mati terbunuh di depan matanya Katniss, mata saya ngga bisa ngga berkaca-kaca. Ketangguhannya di kehidupan nyata sama hebatnya dengan di arena. Secara pribadi, saya acung lima jempol buat Katniss. Saya yang sarjana biologi aja belum tentu bisa bertahan hidup di alam. Tapi cewek ini sukses banget survive hidup di hutan begitu rupa.

Daaaannnn, dua cowok Gale Hawthorne dan Peeta Mellark dimunculkan sebagai orang-orang dengan posisi yang signifikan buat Katniss. Sejak dulu Gale adalah satu-satunya sahabat Katniss. Mereka selalu berburu bareng dan sama-sama jadi tulang punggung keluarga. Gale adalah satu-satunya cowok yang bisa bikin Katniss nyaman berbagi rahasia. Itulah kenapa Katniss bisa 'nitipin' keluarganya ke Gale

Sedangkan Peeta, dia adalah tokoh utama yang full diekspos di buku ini. Secara buku ini kebanyakan cerita tentang kehidupan Katniss di arena Hunger Games dengan dia sebagai teman satu distriknya. Peeta adalah sosok cowok yang menurut saya punya kepribadian yang langka. Dia memegang teguh pendiriannya ngga mau jadi boneka dalam permainan Capitol, walau dia sendiri ngga tau gimana caranya. Sifatnya bertolak belakang sama Katniss: kalem, punya kepandaian public speaking di atas rata-rata, sedikit emosional, dan (ini yang asli bikin meleleh) romantis parah. Dia tau kalo satu-satunya cara nyelametin hidupnya dan Katniss adalah dengan menjalankan strategi kasmaran. Tapi siapa yang tau kalo ternyata semua strategi kasmaran itu bukan sekedar strategi? Apalagi di arena mereka berbagi affection, saling melindungi dan sebagainya. Perasaan Peeta dibuka lebar-lebar di sini. Yang malah bikin perasannya Katniss tambah runyam.


Namanya juga buku young-adult, romantisme dapet porsi yang besar di buku ini. Adegan romantis ini jadi penyeimbang sempurna buat tema politik yang disorot jelas. Romansa itu juga menurunkan tensi cerita yang lumayan bikin deg-degan, gimana Katniss 'dikerjain' di arena. Kisah cintanya Katniss-Peeta, entah nyata entah stategi, ternyata berbalik mengancam kuasa absolut sang presiden. Ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri permainan dengan cara tak terduga, sang penguasa marah besar. Dan berakhirlah buku pertama. Terus, gimana kelanjutannya? Ngga mungkin dua tokoh utama kita lolos gitu aja kan? Dan gimana kelanjutan strategi kasmaran mereka? Eh tunggu, strategi? Atau.... Sebenernya bukan?

Ini saya baru ngebahas bukunya, belum ngebahas filmnya. Besok lagi ya. Ini juga udah kebanyakan cerita, walaupun sejujurnya saya belum puas menggali bukunya, terutama bagian lope-lopenya. Hehehe.... 

Apapun yang terjadi, seengganya satu pelajaran harus bener-bener saya garisbawahi dari buku ini: Jangan pernah mau disuruh pura-pura jatuh cinta sama seseorang. Kalo suka beneran, REPOT!! XD

Tuesday, April 3, 2012

Allah Punya Cara-Nya Sendiri

Posted by Icha at 9:56 PM 0 comments
Satu pertanyaan saya kembali dijawab oleh Allah SWT.

Saya pernah bingung dengan prioritas diri sendiri. Saya punya begitu banyak keinginan, sampe bingung diri ini mesti dibawa ke mana.

Dalam keputusasaan, bukan deng, dalam rasa cape dan mentok berpikir, saya menyisipkan keinginan dalam hati. Saya ingin tau apa yang sebenarnya saya inginkan. Apa mau saya. Ke mana kaki saya pengen melangkah. Di mana hati saya ingin menghadap.

Jawaban ngga serta-merta datang. Saya diberi tawaran, disodorkan berbagai pilihan. Ada yang saya lepas, ada yang saya pertahankan. Ada yang saya terbangkan dengan ikhlas, ada yang saya kunci rapat-rapat dalam hati.

Satu kali, dua kali, dan seterusnya. Allah terus ngasih saya kemungkinan dan pilihan-pilihan yang harus saya jawab sendiri. Saya terus-terusan dihajar frustrasi. Saya diperlihatkan hal-hal yang sepele, tapi ngga jarang bikin migren kumat berhari-hari.

Saya membuang banyak pilihan. Saya melepaskan banyak kesempatan. Sampe di puncak frustrasi, saya cuma cerita ke Mama sambil lalu dan sama sekali ngga mau cerita sama sahabat saya, Gale Hawthrone saya yang bisa dibilang manusia bumi kedua yang tau kejadian-kejadian krusial dalam hidup saya. Saya kepengen cerita, tapi saya tau dia akan mencela saya habis-habisan. Mengkhotbahi saya, mengernyit membaca bbm saya dan pastinya hanya akan menanggapi dengan beberapa kalimat (atau mungkin satu) dengan inti yang teramat jelas: "Mau lo sebenernya apa sih, Cha?"

Dan di saat seperti inilah saya menunduk kembali ke Allah.

Rasulullah SAW bilang, ketika bingung, mintalah fatwa pada hatimu. Maksudnya jelas. Yang ngerti diri kita, yang ngerti tujuan kita ya cuma dua pihak: hati saya dan Allah SWT yang punya hati saya. Tapi saya pun tau, Allah ngga sekedar ngasih jawaban secara mak bedunduk kaya orang dapet balesan SMS. Allah punya cara sendiri. Allah mau saya berpikir, menelaah hati saya sendiri. Allah mau saya menemukan sendiri, apa yang sebenarnya saya mau.

Jawabannya sebenarnya sudah saya temukan sejak lama. Sebenernya saya udah tau apa yang saya mau. Cuma ya itu, ketutup sama keinginan-keinginan impulsif yang membuat pandangan kabur. Dan ketika jawaban itu udah terpeta jelas di depan mata, saya hanya perlu berdiri melawan dunia. Dunia yang ngga bakal sepenuhnya mendukung keputusan saya. Dunia yang bakal menyemprot saya sepuasnya, mencela dan menceramahi tentang betapa bodohnya saya, dan dunia yang akan mengangkat alis, melontarkan kata-kata sarkastis, dan menyesalkan apa yang saya lakukan.

Allah yang menunjukkan semua ini ke saya, jadi saya berasumsi bahwa Dia sudah ridho dengan pilihan saya. Sekali lagi, Allah memang punya cara yang unik dalam menangani hamba-hambaNya. Untuk saya, rasanya sangat jelas.

Allah menetapkan takdir, tapi memberi saya pilihan-pilihan, termasuk pilihan untuk berusaha dan berdoa demi mengubah yang buruk menjadi baik. Apa yang saya pilih, itulah takdir saya. Saya memilih jadi miskin, ya takdir saya miskin. Begitu pula sebaliknya. Saya diperbolehkan memilih takdir saya sendiri dan apapun takdir yang saya pilih, Allah pasti udah kasih ACC.

Alhamdulillah ya Allah.... ^_^

Thursday, March 29, 2012

Kalau empat hari yang lalu sampai kemarin itu bencana, maka hari ini adalah MALAPETAKA.

Posted by Icha at 10:56 AM 0 comments

Wednesday, March 28, 2012

Atama ga Itai

Posted by Icha at 7:12 PM 0 comments
Rasanya sejak awal minggu ini saya lari dengan kecepatan 40 yard/1,2 detik.

Saya baru tau kalau ketika otak berlari, berpikir cepat dan banyak, harus menyusun strategi perang dalam waktu singkat, rasanya bisa sama capenya sama maraton dua ratus kilometer.

Ngos-ngosan.

Saya bukan tipe manusia pecinta olahraga, baik olahraga 'raga' maupun otak. Apalagi otak. That's why saya ngga bisa main catur. Ngga juga deng, catur bukan semata olahraga otak. Catur lebih ke permainan mental, sarat trik psikologis. Harus bisa memprediksi arah pikiran lawan. Terus ujung-ujungnya tau-tau check mate ajah.

Jadi blabbering out ke mana-mana kan.

Semua berawal sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Ada kabar yang luar-biasa-hebat masuk ke inbox e-mail saya. Waktu baca e-mailnya, saya teriak, ngejerit, lari meluk Mama, sujud syukur, ngucap Alhamdulillah berkali-kali, terus loncat-loncat kaya orang kemasukan setan jawa. Total ada kali limabelas menit saya bertingkah begitu.

Setelahnya, saya kembali membaca e-mail dengan seksama, kali ini lebih detail. Saya baca, hayati, resapi tiap kata dan titik komanya. Saya download semua attachments yang disertakan dalam e-mail itu dan saya baca sekilas. Masih biasa saja. Masih kebawa euforia luar-biasa-hebat.

Bencana melanda keesokan harinya. Meski udah tau apa yang harus saya lakukan demi menindaklanjuti kabar luar biasa hebat itu, saya tetep, well, merasa kemrungsung. Saya kembali bercinta dengan Tsubaki-Chan, si merah kesayangan, demi mengeksekusi strategi awal menjalankan misi luar-biasa-hebat ini. Satu jam, dua jam, saya bekerja, tapi otak saya buntu. Euforia sudah hilang, tapi perpindahan irama dari kalem ke 'gerak cepat' berlangsung lebih lama dari dugaan. Jam setengah sebelas siang, saya menyerah. Jadilah saya, Mama, dan Tiza jalan-jalan ke XXI nonton The Hunger Games. Jujur sih, saya emang udah ngebet nonton film ini dari bulan Januari. Dan setelah dua setengah jam yang diwarnai ketegangan, romantisme, dan pria-pria tampan (si macho Liam Hemsworth, si ganteng Josh Hutcherson, dan si hottie Alexander Ludwig), saya harus mengakui kalau film 'salam tiga jari' ini asli EPIC. Ngga nyesel ngeluarin duit 35ribu. Filmnya NAGIH banget!!!!!! Ayo dong, cepetan dibikin sekuelnya!!!!! :DDDD

Malamnya, masih di hari yang sama, saya kembali meneruskan eksekusi misi
luar-biasa-hebat. Dan itu berlangsung sampai hari ini. Pada awalnya saya menikmati pekerjaan yang sejujurnya cuma membuat list itu. Tapi lama-lama saya frustrasi. Gimana sih rasanya bikin daftar sesuatu yang kita pengen tapi ngga nemu yang BENER-BENER kita pengen? Ya begitulah kan?

Untungnya akhirnya saya menemukannya juga. Tadi siang. Good thing to be thankful for. Dan kalau saya mau, saya bisa langsung menindaklanjutinya lagi malam ini. Tapi lagi-lagi. Otak saya sedang ngga mau diajak kompromi. Buntu. Macet kaya Jakarta yang kedatangan anak-anak SuJu, yang otomatis kebanjiran fansnya dari seluruh penjuru negeri. Itu perumpamaan paling mendekati karena saya belum menemukan metafora yang lebih parah.

Saya benci kemrungsung. Bagi saya hidup itu seperti menari. Irama musik ngga selalu cepat. Kadang samba yang menuntut pinggul bergoyang lincah. Kadang tango yang patah-patah, bergerak selangkah-selangkah tapi determinasinya pasti. Kadang juga meminta badan menyesuaikan nada-nada lembut gamelan Jawa, halus, sakral, penuh penghayatan, tidak terburu-buru.

Di sisi lain, menemukan irama sendiri juga menakutkan saya. Saya takut terbuai irama dan jadi ngga cekat-ceket. Mung nyambut gawe, bukan tumandang gawe. Entah kenapa bagi saya dua frase tersebut berbeda artinya. Ntar saya pastiin ke Mama bener atau engganya pemahaman saya selama ini. Anyway, waktu memang ngga mau menunggu. Tau-tau dua jam lagi udah ganti hari. Tau-tau udah H-7 deadline. Makin kemrungsung. Ntar H-1 deadline, makin berantakan. Itulah sebenar-benarnya bencana.

Malam ini saya memutuskan untuk mendinginkan kepala sejenak. Masih ada sangat banyak waktu, tapi Winter Cup ngga akan menunggu. Itu kata anak-anak Deimon Devil Bats. Dan mereka pun rela menjalani neraka latihan di Amerika selama 40 hari. Ya, porsi latihan yang seharusnya dijalani selama dua tahun, mereka lakukan dalam 40 hari. Sama seperti saya. Persiapan misi yang harusnya saya lakukan selama setahun, dipres hanya dalam 30 hari.

Bencana.





Tapi kalau ngga begini, sampai kiamat saya pasti hanya tetap akan jadi Icha yang biasa-biasa saja.

Sunday, March 4, 2012

EF Celebrities on Educational Expo, Solo Square, March 4, 2012

Posted by Icha at 6:52 PM 0 comments
Kapan lagi bisa begini sama temen-temen baru saya? ^_^


Kita baru kenal tiga hari tapi udah langsung 'lengket' begini.
Hahahahaha....


Ah, sayanya yang lebay kali yak.
Bukan apa-apa siiihhhh....
Saya anak baru di tempat les, belum ada sebulan jadi murid,
tapi udah bisa dapet temen kaya mereka :)

Sama-sama suka nyanyi-nyanyi,
sama-sama lagi ngelancarin lidah Inggris kita :D




Sama-sama narsong tingkat dewa mabuk kendaraan,

sama-sama ngempet ketawa waktu adegan 'Marmos mergokin Raflesia'.


Sumpah, yang terakhir itu masih sukses bikin saya ngakak guling-guling sampe sekarang.


Kapan-kapan hangout bareng lagi yaa guys ^_^

Wednesday, February 8, 2012

Emergency Call

Posted by Icha at 8:56 AM 0 comments

Source: here

Setting: Rabu malam, di kamar, dalam keadaan rempong berat, Shirayuri di tangan, dan notif bbm yang sambung-menyambung.
Kegiatan: Curhat
Kesimpulan: (langsung aja ya, daripada kepanjangan)
Saya: Jadi inti masalah dari semua ini sebenernya adalah PRIDE. Gw mikir apa yang orang-orang pikirin tentang gw.
Dia: Selama berabad-abad, Icha yang gw kenal ngga pernah mikirin pendapat orang. Atau apa gw salah orang yak?
Simpel, tapi setelahnya saya merasa luar biasa lega.


Makasih banyak... ^_^

Tuesday, February 7, 2012

Makin Jauh Jalannya, Makin Kerasa Patah-patah Punggungnya

Posted by Icha at 2:59 PM 0 comments
Lama ngga posting, sekalinya posting langsung meng-angsty.

Dari 22 misi bulan Februari, saya baru mencoret 2.

Kacau. Setres. Bisa gila.

Iya, cuma 3 kata itu yang bisa mendeskripsikan kondisi lahir batin jiwa raga saya sejak 1 Januari 2012. Saya udah kaya orang hilang akal. Di luar kalem, di dalem desek-desekan kaya para ELF yang mau nonton konser SuJu. Saking desek-desekannya saya sampe ngga bisa ngeblog, nulis diary macet, yang saya kerjain cuma... Berjuang menjalankan misi.

Satu sepertiga bulan pertama di tahun 2012 saya lewati dengan... Gimana ya ngegambarinnya? Jalan engga, tapi lari juga engga. Desember 2011 saya masih mengamati keadaan. Masih diam di tempat dengan mata jelalatan. Cukup sekali saya kena strike karena ceroboh, jangan sampe kejeblos lagi. Januari saya pasang ancang-ancang. Mulai jalan sambil tetep liat kanan kiri. Sumpah, saya kepengeeeennnnn banget lari. Tapi apa daya, meski rute udah jelas, kondisi jalan sama sekali ngga terprediksi. Apa yang saya denger, info yang saya liat, versi A, B, C, D bisa beda-beda. Dan sejujurnya saya ngga tau harus mempercayai yang mana.

Bulan Februari, masih dalam kondisi ngawang-awang, bures, burem, blawur, saya nyoba jalan agak kenceng. Saya mulai mengeksekusi misi-misi yang saya canangkan sejak beberapa bulan yang lalu. Pokoknya saya ngga boleh stuck. Tapi karena keblawuran itu, saya jadi jalan berdasarkan insting. Bener juga, ketika konsentrasi kita terpecah atau segala sesuatunya ngga jelas, asalkan punya niat dan tujuan yang pasti, badanlah yang mengambil alih. Walau saya ngga tau gimana hasil akhirnya, saya tetep mencoba jalan. Sedikit-sedikit.

Ya, sedikit-sedikit. Kata itu terasa absurd banget buat saya. Saya serasa jalan dari Solo ke Bogor naik bis omprengan yang jalannya 10 km/jam. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh 10 jam jadi molor dua kali lipatnya. Kebayang kan betapa sakit dan bengep-bengepnya badan saya?

Ketika rasa sakit, encok, dan punggung patah-patah itu melanda, saya cuma bisa bilang ke diri sendiri: inilah yang namanya perjuangan. Tapi itupun ngga bisa meredam logika otak kiri yang terus-terusan berdentam-dentam membuat asumsi.

Analogi jalan dari Solo ke Bogor itu sampah!! Dalam kasus itu lo tau cepat atau lambat lo akan sampai di rumah, tapi yang INI?? Lo bahkan ngga tau lo akan sampai di mana.

Hampir tiap hari teriakan itu memenuhi kepala saya. Dan saya bisa berjam-jam setres memikirkannya.

Ketika orang-orang sibuk berkata "Yang penting proses, bukan hasilnya", saya tau itu kebohongan publik. Kalo kita melamar kerja, apakah yang dinilai para interviewer itu susah payah kita berjalan menembus kemacetan kota hanya untuk memasukkan lamaran? Apakah yang dinilai persiapan kita dalam psikotes dan interview? Engga!! Yang dinilai adalah angka hasil tes kita. Nilai nyata yang tertera di atas kertas. Kalimat itu di telinga saya ngga lebih dari sekedar penghiburan pribadi. Excuse untuk menetralkan perasaan sendiri.

Tapi saya tau seperti inilah bentuk perjuangan.
Proses penting bagi saya, tapi hasil dari proses itu penting bagi perwujudan mimpi saya. Dan hasil yang didapat akan setimpal dengan perjuangannya, prosesnya. Itu saya sangat percaya. Jadi kalo kita gagal, pasti ada yang salah dalam prosesnya. Kitalah yang menilai proses itu, bukan orang lain. Jadi ngga masalah kalo kita memberi angka merah pada proses yang kita lalui itu. Saya pun menyadari, ada yang salah dalam proses 'menjalankan misi' saya selama ini. Saya masih harus banyak belajar, harus banyak melihat dan mendengar. Mengurangi kekeraskepalaan. Itulah yang membuat perjalanan ini terasa gila.

Saya sudah berjalan sejauh ini. Dan makin jauh jalannya, makin lama saya menghabiskan waktu di perjalanan, punggung saya mulai terasa patah-patah. Padahal kalau dipikir belum jauh juga, tapi faktor-faktor XYZ yang ngga bisa saya prediksi membuat perjalanan terasa lama. Di sisi lain, faktanya ngga ada yang instan di dunia ini. Semuanya harus ditempuh sesenti demi sesenti. Selalu ada harga yang harus dibayar. Dan saya anggap semua keruwetan ini adalah harga yang harus saya bayar di muka. Semacam investasi tanpa jaminan. #ngenes
Tapi apapun itu, apapun yang terjadi, saya memilih untuk tetap berjalan. Untuk saat ini, itu cukup.

Monday, January 30, 2012

Posted by Icha at 2:34 PM 0 comments
Waktu kecil saya sukaaaaaa banget nonton Kamen Rider dan Sailor Moon, Power Rangers juga. Saya memperhatikan dan menyimak dengan seksama waktu Kotaro Minami teriak "Henshin!!*", Usagi Tsukino dan para Pretty Soldiers berubah, atau para rangers muter jam tangannya dan dalam sekejap, wuuuussshhh... Mereka tampil dengan outfit kebanggaan masing-masing. Sambil bergaya juga tentunya.

Ya, waktu kecil saya menganggap perubahan instan itu menakjubkan. Yang tadinya anak sekolahan biasa bisa jadi pahlawan pembela kebenaran. Yang tadinya langit terang-benderang tau-tau hujan deras sepanjang malam. Yang tadinya gadis miskin bisa jadi putri. Hal-hal semacam itu sepertinya luar biasa, kecuali satu: perubahan mood saya yang bahkan lebih cepet daripada bunglon ganti warna kulit.

Tapi setelah saya jadi, well, bukan anak kecil lagi, perubahan itu terasa sucks. Saya menyadarinya pertama kali ketika suddenly harus pindah sekolah. Ketemu orang-orang baru, masuk ke lingkungan baru yang totally strange,
saya kaya kodok kolam yang mendadak nyemplung ke rawa. Saya mengalami cultural shock atau apalah itu bahasanya. Apalagi segala-gala yang saya jumpai di sana bener-bener BERBEDA dari apa yang selama ini saya kenal. I did feel insecure. Lama-kelamaan saya memang akhirnya bisa menyesuaikan diri. Untungnya. Tapi ya itu, prosesnya sangat LAMA. Dan bahkan setelah bertahun-tahun sampe sekarang, efek perubahan mendadak-dan-sangat-dipaksakan itu masih menoreh. I never feel like I'm supposed to be there; that's the place where I will never belong.

Sejak itu, saya benci perubahan. Saya benci ketika ruangan yang secure yang selama ini saya ciptakan dan saya tempati harus hancur secara paksa. Saya benci pergantian atmosfer yang tiba-tiba. Saya benci bertemu orang baru yang ngga bisa saya baca pikirannya, apakah mereka berpikir yang baik atau buruk tentang saya. Ketika semua itu terjadi di bawah kehendak sendiri rasanya begitu mudah, tapi di dunia ini ngga ada yang selalu berjalan sesuai rencana kan?

Dan setidaknya dalam dua minggu ke depan saya akan menghadapi perubahan terbesar di tahun 2012. Saya udah lama berusaha mengantisipasi, nyiapin hati dan perasaan sendiri tapi hasilnya nol besar sebesar telur dinosaurus. Saya tau cepat atau lambat hal itu pasti bakal terjadi dan AKHIRNYA saya bersikap bodo amat. Serius. Mikirin aja udah stres level Gaou**. Saya ngga mau (tambah) membebani pikiran sendiri dengan ngebayangin apa yang bakal terjadi. What will be, so be it. Terserah, saya udah cape melawan. #limitbreak #frustrasi

Setidaknya dua minggu ke depan hidup saya ngga akan sama. Rasanya kaya saya punya celengan yang saya isi dengan koin limaratus rupiah selama bertahun-tahun, terus ada manusia freak dateng bawa palu raksasa dan memecahkan celengan itu sekali pukul. Sementara saya berpikir uang yang mengisi celengan itu belum cukup banyak.

Saya benci perubahan. Terutama perubahan yang bikin segalanya lebih kacau daripada sebelumnya.




*Henshin!! = Berubah!!
**Gaou --> nama tokoh di Eyeshield 21, Gaou Rikiya. Stres level Gaou means stres parah. Aapa hubungannya? Silakan baca sendiri komiknya :D

Tuesday, November 29, 2011

Jangan-jangan Mama Saya Vampir

Posted by Icha at 7:08 PM 2 comments
Finally tadi siang saya ama Mama menghadiri pesta nikahan yang paling kami tunggu-tunggu.
Edward Anthony Masen Cullen

and

Isabella Marie Swan
Eaaaaaaaaaaaa..... Senengnyaaaaaa..... ^_______^

Oke, walaupun sejujurnya Edward bukan cowok yang bikin saya betah nonton film ini. I couldn't help his perfect romantic attitude, but honestly, Jacob Black has my heart. I'm yours, Jacob!! Aaaaaaaaaaaaaa.....

Dan itulah yang terjadi sodara-sodara. Saya dan Mama duduk sebelahan di bioskop, sharing sebungkus caramel popcorn, dan selama kurang lebih dua jam memandangi dua pria yang berbeda. Ngga rebutan deh ^_^

Tapi jujur deh, kadang saya mikir, jangan-jangan Mama saya ini juga vampir.

Apa ciri khas vampir yang menjadikan manusia paling banyak curiga ama mereka? They're NEVER getting older. Mama, jujur, juga gitu.

Ngga percaya? Mau bukti?

Satu, Mama selalu dikira punya anak yang masih TK. Untungnya temen-temennya ngga ada yang punya penyakit jantung, Alhamdulillah. Kalo ngga bisa-bisa mereka kolaps liat saya. Gimana engga, baru dibilang "Jangan salah, anak saya udah lulus kuliah lho, Bu" ama Mama aja mulut mereka udah pada ternganga. Baiklah, saya akui bagian ini superlebay. Tapi esensinya bener lho. Mama dianggap terlalu muda untuk punya anak umur 22 tahun, padahal umurnya sendiri 27 tahun lebih tua dibandingkan saya.


Kami sering lho dibilang kakak-adik ^_^

Dua, Mama selalu jadi yang ngantri pertama untuk membaca novel-novel yang baru saya beli. Entah itu novel historical romance-nya Julia Quinn, serial Princess Diaries, serial Twilight, sampe ketujuh buku Harry Potter. Tujuh-tujuhnya, ladies and gentlemen. Semuanya dilahap dan ngga jarang kami ngobrolin isi buku-buku itu. Cuma satu bacaan favorit saya yang belum bisa dinikmati Mama: komik!! Alasannya sih karena tulisannya kecil-kecil. Hihihihi..... Ngga heran sih, dengan kesamaan hobi kami ini. Saya juga jadi kutu buku begini karena influence Mama. Dari umur tiga tahun, hanya ada satu tempat di dunia di mana saya diperbolehkan kalap ngabisin duit (ngga sepenuhnya bener juga sih. Hehehehe.....). Tempat itu adalah: TOKO BUKU. Dan akhirnya Gramedia selalu jadi tujuan wajib kalau kami jalan ke mal. Pokoknya kalau belum masuk Gramed berarti belum mentok ngecengnya. Hahahaha.....


Inilah bukti kesamaan hobi kami. We do love books!! ^_^

Tiga, Mama saya ini sudah makan asam garam dunia per-film-an. Bukan main film, tapi NONTON film. Mari diabsen. The Sound of Music keluaran tahun 1970-an sudah. The Lion King keluaran tahun 1993 (yang adalah film pertama yang kami tonton di bioskop) sudah. Film-film tahun 2000-an sekelas Transformers, Pirates of The Caribbean, Harry Potter dan Twilight saga pun khatam. Ngga cuma itu, segala genre pun dihabisi. Diajak nonton Kungfu Panda yang kocak sejagat ayo, Letters to Juliet yang romantis boleh, The Dark Knight yang keren pun monggo. Barusan saya dan seorang adik tingkat ngobrol di twitter tentang Breaking Dawn. Saya ditanya, nonton ama siapa. Saya jawab berdua ama Mama. Kata si adik tingkat, "Wah, mamanya Mba berjiwa muda ya." Belum tau aja dia kalo Mama naksir berat ama Kang Edward. Hahahaha.....

Empat, Mama juga suka selera musik saya!! Padahal buat temen-temen saya aja, selera musik saya udah lumayan weird. Playlist saya dipenuhi lagu-lagu Jepang yang ngga banyak orang tau (dan bisa menikmati), lagu-lagu barat yang kebanyakan soundtrack film, dan soundtrack drama-drama Korea. Kalau saya pergi berdua Mama, selalu saya yang menguasai CD player di mobil, dengan cueknya nyetel CD Utada Hikaru atau kompilasi bikinan sendiri. Mama ngga pernah protes dan ternyata bisa menikmati. Bahkan Mama tau beberapa lagu favorit saya dan belum lama ini bilang kalau lagu Continued Story yang dinyanyikan Kuroishi Hitomi adalah salah satu favoritnya. Nahlo, ada yang tau lagu itu? ^_^

Segini aja udah bikin saya curiga. I thought she's never getting older. Mama selalu bisa ngikutin tren jaman sekarang, minimal tren-nya saya. Mama tau (dan hebatnya, pinter milih) artis-artis ganteng yang booming sekarang ini, yang jadi kesukaan saya. Makanya waktu Twilight saga ini jadi trending topic, secara otomatis Mama udah nge-tag Edward dan saya langsung condong ke Jacob. Jadi kalo nobar amaaannn, yang diliat udah ada sendiri-sendiri. Hehehehehe.....

However inilah yang membuat saya selalu nyaman melakukan hal-hal khas gadis muda (ceileeehhhh :D) bareng Mama. Nyalon, nonton, beli baju, curhat, anything. She never judges.
Mama selalu bisa saya ajak bicara tentang apa aja: sekolah, kampus, cowok, pertemanan, sampai future planning. Mama selalu mau saya jadikan 'tong sampah', tempat curhat yang ngga pernah menghakimi, tau kapan saatnya hanya jadi pendengar. Brankas dengan sistem proteksi terbaik di dunia, di mana rahasia saya aman tersimpan, ngga akan pernah terbuka satu huruf pun. Yang menghormati privasi saya lebih dari siapapun, tapi di sisi lain tau lebih banyak tentang rahasia saya dibandingkan diary saya sekalipun. Mama selalu ngerti jalan pikiran saya. Kecuali hal-hal prinsipil, Mama ngga pernah saklek menerapkan apa-apa yang diperolehnya jaman seumur saya. Udah ngga relevan, katanya.

What's more incredible about her is even physically she never looks older. She's always absolutely beautiful
. Yang bikin saya iri, Mama saya yang mungil itu kecantikannya bukan berasal dari polesan, tapi dari hati. Tapi hebatnya, Mama selalu percaya saran dan masukan dari saya bikin dirinya makin cantik. Mama ngga pernah protes sama barang-barang, baju, sepatu, tas, dan aksesori pilihan saya karena percaya pilihan saya akan selalu nampak pas dengan penampilannya. Mama ngga pernah ngeluh, ngga pernah keliatan sedih dan ngga pernah galau (beda banget ama saya :D), jadinya semua bilang Mama awet muda. Bahkan temen SMA-nya ngga pernah pangling. Katanya wajah Mama dari SMA ngga berubah!! Jengjeeeennngggg.....

Haduuuuhhhhh, sampe sini saya susah mau stop cerita. Mama emang ngga ada habisnya diceritain. Mama itu ajaib, sama kaya saya. That's why I love her soooo much. Anyway, saya jadi mikir. Kalau Mama vampir berarti saya ini semacam Renesmee gitu yaa. Ayeeeeee, di-imprint ama Jacob!! *Ngareeeeeepppppp*


Mirip kaaaannnn.....? (Harus iya ngga boleh engga!!)


P.S: Sayangnyaaaa, setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, Mama jelas bukan vampir karena ngga minum darah. Kecewa? Dikiiiittttt. Meski hanya manusia biasa bukan berarti saya kehilangan kesempatan di-imprint Jacob kan? *Hayaaahhhh, masih dilanjutin ajaaaaa..... :DDDD*

Sunday, November 27, 2011

Back to The Virtual World!!

Posted by Icha at 9:20 PM 0 comments
Akhirnyaaaaaaa..... Balik lagi ke dunia maya.

Setelah sebulan lebih kejebak di negeri antah-berantah, seneng rasanya kembali ke dunia kedua: browsing, blogging, downloading. Yah, walau malem ini modem terang-terangan ngajak berantem dengan menunjukkan speed graph yang persamaan garis singgungnya y = 0.

Kayanya modem ini ngga jauh beda ama yang punya rumah. Baru dua hari saya ama Mama nginjek rumah. Dua hari saya sensi, dua hari Mama mendadak jadi lupaan. Kayanya kami masih asing ama hawa rumah. Hadeeeeehhhhhhhh.....

Anyway, sebenernya banyaaaakkkkkk bangeeeettttt yang pengen saya posting. Tapi saking lamanya, saking ngantuknya, dan saking mutungnya ama si modem, saya jadi lupa. Ngeeeeekkkkk.....

Jadi bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja ceritanya. Sepakat?

Oiya, ngomong-ngomong soal sepakat saya jadi inget suasana Mubes HIMABIO 2009. Saat itu saya duduk di barisan pengurus, dengan laptop yang terbuka, sibuk memanfaatkan hotspot kampus demi nyari tugas limnologi (sembari fesbukan :D). Saat itu masih evaluasi dan saya udah jengah sejengah-jengahnya. Akhirnya imajinasi ini berpetualang dan inilah adegan yang terbayang dalem kepala.

Pimpinan sidang: Dengan ini saya tawarkan perpanjangan waktu untuk tanya jawab dua kali lima menit. Forum sepakat?
Anggota forum: Usul pimpinan sidang, agar menghemat waktu, bagaimana kalau diadakan adu penalti saja?

Dan saya ngekek sendiri.

Aduuuuhhhhh, kok jadi ngelantur sih!?

Ya udah deh, daripada yang baca tambah bete, saya langsung ke inti aja (dari tadi emang belum sampe intinya, sodara-sodara):

Tadaimaaaaaaaaaaaa~~~~~~~~ :DDDDDD

Monday, September 19, 2011

Over Night - Aya: A Truth to Find Out

Posted by Icha at 6:53 PM 0 comments

Cry
Spray
Go other way
I'm in the same fate with you
I feel your beat all around
Wandering in the everlasting way
(Chevalier, show me the way to go)

Forever...
Tears fall,vanish into the night
If I'm a sinner...
Chevalier, show me the way to go

Rise
high
just feel alive
Say a prayer for you today
I still believe in your love
Trace the shadow of truth into the dark
(Chevalier, show me the way to go)

Forever...
Tears fall,vanish into the night
If I'm a sinner...
Chevalier, show me the way to go

Wandering my crying soul
Only you can wipe away my tears
Wandering my crying soul
Only you can wipe away my tears

Forever...
Tears fall,vanish into the night...
Forever...
Tears fall,vanish into the night...


_Over Night - Aya_
Setiap manusia punya bayangannya, setiap terang punya sisi gelapnya.

Dan untuk gelap yang jujur ini, saya berterima kasih.

Saya tidak lebih terang, tapi saya percaya.





"Dan kamu boleh pinjam bintangku kapan pun kamu perlu"

Thursday, September 15, 2011

A Happy Ending

Posted by Icha at 11:33 AM 0 comments
22 Agustus 2007 - 8 September 2011
Betha - Ipung - Hanum - Dini - Astri - Icha - Kade - Fikar
Sasti - Septi - Sukma - Amey

Friday, July 29, 2011

Kenapa Cuma Saya

Posted by Icha at 7:34 PM 0 comments
yang terhenti di waktu yang sama?

yang terjebak dalam empat ruang yang sama?

yang terpancang pada percaya yang sama?

yang bersikukuh, yang dihakimi sebagai angkuh?

yang dituding ego, disudutkan disorientasi dulu dan sekarang?



Lalu.



Kenapa cuma saya
yang masih mengelilingi matahari yang sama?

Wednesday, July 27, 2011

Nakama-Tachi!!

Posted by Icha at 8:13 PM 0 comments
Apa definisi persahabatan buat saya?



Sederhana.

Sahabat adalah orang-orang yang bisa saya ajak memiliki dunia.

Wednesday, July 20, 2011

22

Posted by Icha at 6:32 AM 0 comments
Alhamdulillah.....



Ternyata kontrak dari Allah buat saya nyampe juga di angka 22.

Ulang tahun ke-22 ini rasanya bener-bener beda dari sebelum-sebelumnya. Tahun ini saya ngerayain ultah di Solo, jauh dari Mama. Yang biasanya pagi-pagi disambut peluk cium kali ini cuma bisa dipeluk dan dicium lewat telpon. Yang biasanya pesta di rumah pake bubur merah putih dan masakan Mama, kali ini ngga ada. Huhuhu..... Sedih siihhh, tapi tetep bersyukur karena ada teman-teman, sahabat-sahabat plus sodara sodari yang ngasih ucapan selamat dan ngedoain. Mulai dari yang ucapannya singkat pake banget ('HBD, WYATB') sampe yang ngasih doa dan petuah panjaaannngg beneeerrrrr (sampe ngga bisa ditulis di sini ^_^). Pokoknya ultah saya tetep berwarna-warni karena ada mereka.

Di angka 22 ini juga ngga ada kado yang mewah. Tapi Alhamdulillah Allah udah ngerapel kadonya sebulan yang lalu, yaitu buntut di belakang nama yang panjang ini. Hehehe..... Ups, bukan buntut nama suami yaa..... (Aaaaamiiinnnn juga sebenernya :D). Alhamdulillah bulan Juni kemaren udah ada 'S.Si.' di belakang nama. Itu adalah kado terindah buat ultah saya tahun ini. Akhirnya satu kewajiban terpenuhi dan mimpi no. 2 berhasil kecoret!! YAY!! Tapi teteeeeppppp masih ribet aja ngurusin yudisium. Doain yaa biar lancar dan bisa cepet dikukuhkan ^_^

Jadiiiiiii..... Di angka 22 ini, apa yaa resolusi saya?

First thing first, saya pengen jadi Icha yang lebih banyak bersyukur, lebih banyak mengingat Allah, lebih sabar dan lebih ikhlas. Pastilaaahhhh.....

Kedua, saya pengen ngelanjutin pencapaian yang udah saya raih sekarang. Pengen mencoret mimpi no. 6, 7, 8, dst dst. Pokoknya mimpi yang saya punya ngga boleh berhenti sampe di sini. Masih ada banyak yang harus diwujudkan. Semangaaaaaatttttttt..... ^_^

Intinya cuma dua itu sih sebenernya. Hehehe..... :P

So, makasih banyak buat semua yang udah doain, yang udah mengirimkan best wishes-nya buat saya. Semoga doa yang baik kembali kepada mendoakan. And sincerely, I have same wishes for you guys. Moga kalian pun mendapatkan apa yang terbaik dari Allah SWT.

Hontou ni arigatou, Minna..... ^_^

Oiya, last but not least, thanks a lot to my honeybunch Tiza for being the first saying happy birthday. Belum tengah malem lhoo ituuuu..... Hahaha..... XOXOXOXOXOXO :) :*

Saturday, July 16, 2011

Jealousy

Posted by Icha at 12:56 PM 0 comments
"Karena jauh dalam hatinya dia tau dirinya tidak lebih baik dari dirimu."

Thursday, July 14, 2011

Franklin - Paramore: Hometown of My Heart

Posted by Icha at 8:27 AM 0 comments
And when we get home, I know we won't be home at all
This place we live, it is not where we belong
And I miss who we were in the town that we could call our own
Going back to get away after everything has changed

'Cause you remind me of a time when we were so alive

(Everything has changed)
Do you remember that? Do you remember that?
(Everything has changed)
'Could you help me push aside all that I have left behind
(Everything has changed)
Do you remember that? Do you remember that?

So we stand here now and no one knows us at all

I won't get used to this
I won't get used to being gone
And going back won't feel the same if we aren't staying
Going back to get away after everything has changed

Could you remind me of a time when we were so alive

(Everything has changed)
Do you remember that? Do you remember that?
(Everything has changed)
'Could you help me push aside all that I have left behind
(Everything has changed)
Do you remember that? Do you remember that?

Taking up our time

Taking up our time
Taking up our time
It's taking up our time we can't
go back, we can't go back at all
It's taking up our time we can't
go back, we can't go back at all
It's taking up our time we can't
go back, we can't go back at all
It's taking up our time, taking up our time

Could you remind me of a time when we were so alive

Do you remember that? Do you remember that?
Saya kangen sebuah tempat. Sebuah tempat yang jadi salah satu hometown saya.

Kota itu, tempat saya ngerasain persahabatan (yang saya pikir itu adalah satu-satunya persahabatan sesungguhnya yang pernah saya punya), jatuh cinta (dan itu adalah jatuh cinta teraneh yang pernah saya alami), rivalitas (yang entah kenapa rasanya seru, kaya di film-film), sampe nangis kejer, katarsis, teriak. Ya, nangis kejer, kejer sekejer-kejernya, sejadi-jadinya, karena patah hati.

Kota itu mendewasakan saya. Saya pernah menggenggam cinta yang luar biasa, pernah dihajar patah hati yang juga luar biasa, pun merasakan kehilangan yang luar biasa waktu Opa kembali ke Allah SWT. Saya pernah ngerasain bahagianya sukses dengan usaha sendiri di sana. Kalau ngga tinggal di kota itu, saya ngga akan jadi Icha yang sekarang.

Saya kangen kota itu. Saya kangen hujannya, kangen petirnya, kangen cakwe langganan di pinggir jalan, mal tempat nongkrong tiap weekend, macetnya, angkotnya. Saya kangen spot-spot yang membawa saya flashback ke semua kenangan di sana.

Saya suka kota itu, tapi hati saya ngga pernah bisa belong di sana. Ironis memang. Tapi saya punya sesuatu, seseorang, yang bikin saya selalu pengen balik ke sana. Walau cuma buat mengecap kenangan-kenangan yang ngga bisa digenggam lagi.

Kota itu bukan Franklin, Tennesse kaya di lagu ini. Tapi kota itu menakjubkan. Sama seperti apa yang pernah saya alami di sana.

Untuk mereka yang mengerti, tanpa disebut pun pasti tau.

Monday, July 11, 2011

Summer Rain

Posted by Icha at 7:52 AM 0 comments


Masih menangis

Masih dikelilingi abu-abu
Kabut tak mau hilang
Terpancang
Walau sudah diusir
Walau dicampakkan matahari
Belum,
belum mau pergi

Empat dinding di sini masih tak berwarna
Apa kau tau,
di dalam sini ada yang terkunci
Terselip dalam helaian bersampul merah

Hujan juga terpecah,
Awan juga terpisah

Tapi matahari diam saja.




Apa di hujanmu masih ada aku?





*Makasih buat Yamashita Tomohisa yang udah nyanyiin After The Rain dan ngasih mood buat puisi ini ^_^
 

Confessions of A Not-It Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea