Showing posts with label Books and Me. Show all posts
Showing posts with label Books and Me. Show all posts

Sunday, January 5, 2014

Antara Saya dan Belajaaaaaaaaarr

Posted by Icha at 9:12 PM 0 comments
Doa sebelum mulai posting: Semogaaaa yang baca ndak keburu irritated baca judul postingan saya kali ini :D

Kalau mau cerita tentang saya dan belajar, sepertinya harus ada adegan flashback ke 18 tahun yang lalu, saat saya masuk kelas 1 SD. Jaman TK kan saya ndak pernah belajar. Hahaha... Mulai masuk SD barulah siksaan tujuh huruf itu dimulai.

Siksaan? Hmm... Let's see. Selama SD, yup, selama 6 tahun, saya benar-benar dikerasi soal belajar. Mamah sama Papah kompak menerapkan disiplin yang luar biasa. Jam 7 sampai jam 9 malam wajib duduk di depan meja belajar. Televisi di ruang keluarga mati. Saya wajib duduk mengerjakan soal-soal mata pelajaran keesokan hari di sekolah. Satu poin lagi, malam hari tidak ada mengerjakan PR. PR sudah harus dikerjakan sepulang sekolah. Selama 6 tahun begitu. Kebayang kan, setresnya kaya apa? Tapi terbayar sih semua kerja keras itu, selama 6 tahun saya ndak pernah terdepak dari 3 besar di kelas. Lumayan, ndak bikin orang tua malu tiap ambil rapot :p

Beranjak ke jaman SMP, yang terjadi justru kebalikannya. Saya sama sekali ndak pernah belajar. Sama sekali. Tiap hari kerjaan cuma ngurusin cowok, nonton tipi, nggosip ama temen-temen dan sepupu-sepupu. Ketebak, track record saya waktu SMP jelek sekali. Pelajaran makin susah, sayanya ndak pernah belajar, makin ndak ngerti. Untung waktu mau ujian nasional saya insaf. Ikut bimbel dan mulai rajin belajar. Alhamdulillah bisa lulus juga dari SMP.

SMA, bisa dibilang ini turning point. Yup, hanya karena mamah bilang,"Mba, udah SMA lho. Habis ini kan mau kuliah. Kalau mau kuliah di universitas yang bagus, nilaimu harus bagus dari sekarang". Yak, langsung tobat, insaf yang sebenar-benarnya. Jadi sregep setengah mati. Apalagi di SMA dulu saya dianggap remeh karena pindahan dari kota kecil. Saya ndak bales ejekan-ejekan itu, cukup waktu ujian nilai saya paling tinggi. Bungkamlah mereka semua. Apalagi waktu kelas dua SMA, datanglah seseorang yang kemudian jadi rival sejati saya di sekolah. Ditaro sekelas pula, jadilah makin semangat. Buat orang yang 'panasan' (baca: berjiwa kompetitif tingkat dewa. #tsaaaahh) kaya saya, dapet sparing partner dengan kemampuan yang sama (sama-sama panasan, sama-sama susah kalah) itu rasanya menyenangkan sekali. Kaya punya alasan tambahan untuk mengejar nilai bagus :))

Waktu S1, saya masih jadi anak rajin, tapi berbeda dengan semasa pake seragam, saya sudah bisa menentukan irama belajar sendiri. Apalagi ada kewajiban praktikum, pretest, responsi, tugas, organisasi, dan sebagainya. Belajar segala gaya rasanya jadi bisa. Semakin tambah semester, semakin tau diri ini sukanya apa, minatnya ke mana. Mata kuliah lingkungan, dapet B sudah di luar ekspektasi, mata kuliah tumbuhan sama mikrobia diusahain nilainya bagus biar transkripnya bagus, tapi kalau mata kuliah hewan, ndak ada ampun harus dapet A!!

Sampai lulus S1, saya merasa udah nyaman sama definisi 'belajar' saya selama ini. Tapi semua itu terpatahkan ketika saya masuk S2. Bukan ketika masuk sebenarnya, tapi ketika saya ketemu orang yang sekarang jadi pacar saya.

Urusan otak, seisi dunia tau betapa jauh beda level saya sama Mas Radif. Sampai detik ini ndak keitung berapa kali saya minta diajarin sama dia, mulai dari rentetan reaksi senyawa-senyawa di BMS sampai mekanisme transcription factor di genetika molekular. Mulai dari minta dijelasin metode di jurnal yang ruwet sampai bikin presentasi yang enak diliat. Pokoknya urusan belajar, saya jadi semacam Aihara Kotoko di Itazura na Kiss, terbirit-birit mulu ke pacar. Efeknya keliatan sih, saya sedikit demi sedikit terlepas dari jeratan kebodohan. Hahaha... Tapi di sisi lain, selain bangga dan seneng, ndak keitung juga berapa kali saya serasa bengep digampar sendal jepit.

Menemukan orang seperti Mas Radif membuat saya berpikir, dari SD sampai S1 saya ini belajar untuk apa. Saya selama ini belajar, tapi saya tidak pernah benar-benar mencintai apa yang saya pelajari. Saya belajar hanya untuk memuaskan ekspektasi orang-orang di sekitar saya: untuk mereka yang mau melihat rapot saya bagus, menggembar-gemborkan saya rangking satu, mereka yang ingin pamer kalau anggota keluarga mereka lulus cum laude. Efeknya, saya hanya mempelajari apa yang ada di depan mata karena hanya itu yang saya anggap penting. Saya jadi tidak terbuka pada ilmu-ilmu lain, dan yang lebih parah, saya ndak tau apa yang benar-benar saya suka dan inginkan. Damn, seketika saat saya menyadari itu, saya merasa jijik pada diri sendiri. Serius.

Lalu saya melihat Mas Radif, someone so close yet so different from me. Dia permah bilang, dia suka belajar karena bagi dia ilmu itu sebuah investasi. Saya ndak bisa ndak setuju. Bagaimanapun juga, orang yang pengetahuannya makin luas akan makin bisa berbaur di dunia yang tidak sempit dan dangkal ini. Dia belajar karena haus ilmu, karena takut tergilas, tertinggal oleh akselerasi dunia. Itulah kenapa dia tertarik pada banyak hal, belajar banyak hal, lalu menguasai banyak hal. Broad and deep. Lalu saya melihat diri sendiri dan menemukan seekor katak dalam tempurung. Masa titel saya sarjana biologi tapi dia lebih banyak tau soal biologi dibanding saya. Ya ampun, maluuuuuuu banget. Belum lagi liat pencapaiannya yang keren-keren, hasil belajarnya selama ini. Duh, saya ini baru sampai di level mana?

Fortunately, dia bukan seseorang yang punya ilmu tapi dipek dhewe, disimpen sendiri. Ndak pernah sekalipun menolak permintaan saya untuk online messenger semalam sebelum ujian supaya bisa belajar bareng dan nanya-nanya, mau jelasin jurnal seruwet apapun ke saya, dan ngasih saya banyak bacaan bagus. Barusan dia ngasih saya link open course dan whoaaaaaaaaaa... Keren-keren!! Jadi kepengen belajar lagi, belajar biologi lagi karena ternyata banyak hal yang belum saya kuasai waktu S1 dulu :D

Setiap melihat dia, saya otomatis mengingatkan diri untuk mencintai belajar, mencintai apa yang saya pelajari. Dan pastinya ngurangin males. Meski yang ini agak sulit. Hehehe... Dia mengajarkan pada saya bahwa belajar bukan untuk menyenangkan siapa-siapa kecuali diri sendiri. Bukan juga untuk dapat predikat 'dengan pujian'. Ilmu itu investasi, yang ditabung untuk nantinya diajarkan. Pada siapa? Ya yang dekat-dekat dulu, keluarga, anak cucu, lingkungan.

Well, I don't know how far I've already improved myself. Saya cuma mau jadi Icha yang sedikit lebih tidak cupet. Sesederhana itu kok. Itu juga yang jadi resolusi saya tahun 2014 ini. Berbuhung ini postingan pertama di 2014, saya mengucapkan selamat tahun baru, semuanyaaaa. Minna akemashite omedetou. Kotoshi mo yoroshiku onegaishimasu!! ^_^

Monday, September 2, 2013

Sakau Buku (lagi)

Posted by Icha at 9:39 AM 0 comments
Terima kasih kepada Anggun Feranisa yang pagi ini telah bersedia sms untuk melaporkan prestasinya menamatkan seri terakhir The Alchemist, yaitu The Enchantress, dengan gemilang. Rasanya pengen saya ajak berantem anak ini, dengan semena-menanya dia membuat saya menginginkan buku baru!!!!!

Baru digituin aja saya udah kepengen buku baru, padahal wishlist saya sudah sepanjang ini...
  1. City of Lost Souls (The Mortal Instruments series, book 5) by Cassandra Clare
  2. Clockwork Princess (The Infernal Devices series, book 3) by Cassandra Clare
  3. Inferno by Dan Brown
  4. American Gods by Neil Gaiman
  5. Abandon by Meg Cabot
  6. Buku-bukunya Agatha Christie. Belum pernah baca satu pun, but I am sure I will give it a try. Kalo bagus ya beli lagi. Murko? Pancen!! XD
  7. Serial The Alchemist. Udah lama mupeng liat cover bukunya tiap main ke Gramed, tapi selalu maju mundur mau beli. Gara-gara si Anggun ini nie, jadi tambah mupeng. Tanggung jawab cuy!!
  8. Dan ratusan buku lainnya yang ngga pernah gagal bikin saya meleleh-leleh dan merasa miskin kalo lagi jalan ke Gramed/Togamas/Periplus/Kinokuniya

Padahal lagi, masih ada at least 8 buku (at least 8, aslinya entah berapa banyak :P) yang belum saya tamatkan...
  1. Clockwork Prince (The Infernal Devices series, book 2) by Cassandra Clare
  2. Matched by Ally Condie
  3. Men are from Mars, Women are from Venus by John Gray
  4. Kogoeru Kiba / The Hunter by Asa Nonami
  5. Defiance by C.J. Redwine
  6. Seraphina by Rachel Hartman
  7. The Night Circus by Erin Morgenstern
  8. The Geography of Bliss by Eric Weiner
Padahal lagi, lebaran kemarin sebagian THR sudah saya belanjakan dengan penuh napsu di Gramed dan Kinokuniya, dan buku hasil ke-kalap-an itu bahkan belum kebaca. Seriously, baca jurnal buat bahan tesis susahnya minta ampun, giliran liat novel aja matanya ijo.

Tapi tapi tapi, namanya juga Icha XDDDDDD

Wednesday, September 5, 2012

Wishful Wednesday #1

Posted by Icha at 9:31 PM 1 comments
Yihaaaaaa... Ini pertama kalinya saya posting Wishful Wednesday di blog. Abisnya ngebaca Wishful Wednesday di Surgabukuku sama Fanda Classiclit kok seru banget. Akhirnya kepengen bikin juga. Lagian saya kan juga cinta buku, kenapa ngga bikin wishlist juga? Siapa tau ada yang mau jadi perantara Allah ngabulin Wishful Wednesday saya. Hihihi... #NGIMPI

Eniwei, ngga perlu berlama-lama lagi, ini dia buku yang saya pengenin banget-banget di Wishful Wednesday edisi perdana ini :)


http://www.booksyoulove.co.uk/wp-content/uploads/2010/08/The-Hunger-Games.jpg
 Source : here

_The Hunger Games trilogy UK edition box set_ 

Ngga perlu dijelasin panjang kali lebar kali tinggi, pasti temen-temen semua udah tau kalo saya TERGILA-GILA dengan buku ini. Yang pernah saya jabarin di blog ini emang baru buku pertama, but I ensure you, saya bakal bikin ulasan buku kedua dan ketiganya, insya Allah :)

Walau saya tau di luar sana ada yang lebih 'gila' daripada saya, bagi sobat-sobat di kampus, saya udah dianggap cukup gila ketika mereka tau saya menamatkan trilogi epik karya Suzanne Collins ini hanya dalam waktu 10 hari. Gimana engga, ceritanya bikin saya ngga bisa meletakkan buku ini sebelum mencapai halaman terakhir buku terakhir. Ceritanya yang mengambil tema 'ngga biasa', kisah cinta yang mengaduk-aduk perasaan sampai pendalaman karakter yang sangat luar biasa bikin buku ini dapet nilai 11 out of 10 dari saya.

Terus, mengenai embel-embel 'UK edition', ini ngga lepas dari sebuah ambisi pribadi. Saya berhasil menamatkan trilogi ini dalam bahasa Indonesia dan penasaran banget sama versi bahasa Inggrisnya. Yah, I simply want to challenge myself, kalo yang versi terjemahan bahasa Indonesia bisa tamat 3 buku dalam 10 hari, gimana kalo versi English-nya? Pun, sebenernya mau edisi US atau UK ngga masalah, but still I prefer UK edition, no particular reasons though :)

Isi sama tapi disajikan dalam bahasa berbeda bisa jadi membawa mood berbeda saat membacanya. Saya bisa mbrebes mili alias menitikkan air mata membaca versi bahasa Indonesianya, bagaimana dengan English-nya? Kalo saya bisa sukses banjir air mata berarti saya cukup memahami cerita tersebut dalam bahasa Inggris. Kalo ngga? Well, motto ganbatte ne!! ^_^

Anyway, pengen gabung juga bikin Wishful Wednesday? Ini dia caranya :)

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)
Ayooo, pada ikutan di Wishful Wednesday. Siapa tau dapet info dan rekomendasi buku-buku yang patut dibaca. See you next Wednesday. Mata raishuu~ XD

Friday, April 6, 2012

The Hunger Games : Awal Trilogi yang Bikin Galau Setengah Mati

Posted by Icha at 2:35 PM 0 comments
Akhirnya setelah sekian lama ngerasa hampa karena tamatnya serial Harry Potter, ada juga buku yang bisa bikin emosi saya campur aduk ngga karuan.
 
Ini yang saya beli versi terjemahannya dan dapetnya yang cover film

Sebenernya saya TELAT BANGET tau soal The Hunger Games trilogy. Terjemahan buku pertamanya terbit tahun 2008 dan saya baru baca tahun 2012!! Saya gemes sama diri sendiri, soalnya saya taunya baru setelah nonton filmnya yang rilis 23 Maret kemaren. Saya nonton trailernya pertama kali pas mau nonton Sherlock Holmes 2 dan setelah itu saya jadi hobi nonton trailer itu di Youtube. Ketagihan. Rupanya keputusan mengeluarkan duit Rp 35.000,00 sangat tepat karena filmnya emang asli EPIC.

Seminggu kemudian saya beli trilogi itu, 3 buku sekaligus karena kebetulan lagi ada diskon. Buku pertama, The Hunger Games, saya selesaikan dalam waktu 2 hari, waktu bersihnya malah mungkin kurang dari 24 jam. Buku yang menurut pengarangnya, Suzanne Collins, terinspirasi dari mitologi Yunani tentang cerita Theseus ini emang recommended banget buat dibaca. Pelajaran hidupnya banyak banget.

WARNING : SPOILER ALERT!!!!!!!! (Kalo ngga mau kehilangan rasa penasaran mending berhenti sampe sini ^_^)

The Hunger Games bercerita dari sudut pandang Katniss Everdeen, protagonis cewek kita, sang tokoh utama. Katniss tinggal wilayah miskin di Distrik 12 di negara Panem (wilayah yang dulunya bernama Amerika Utara) sama ibu dan Prim, adik perempuannya. Karena keluarganya emang miskin, Katniss harus jadi tulang punggung keluarga. Kegiatan rutinnya buat dapet makan sehari-hari adalah berburu di hutan di luar distrik, bareng sahabatnya Gale Hawthorne, bahkan di hari yang paling mengerikan buat seluruh penduduk Panem: Hari Pemungutan.

Hari Pemungutan yang diadain sekali tiap tahun itu selalu jadi awal bencana. Tiap distrik di Panem harus 'mengorbankan' satu cewek dan satu cowok umur 12-18 tahun, yang namanya kesebut di pemungutan itu, buat mengikuti Hunger Games, reality show yang bakal disiarkan ke seluruh negara. Reality show ini adalah bagian dari peraturan penguasa Panem yang totalitarian. Mending kalo reality show-nya semacem Indonesian Idol gitu. Masalahnya di Hunger Games ini para Tribute atau peserta mesti saling bertarung sampai mati, sampai cuma tinggal satu yang jadi pemenangnya. Dan Pemungutan tahun itu ternyata 'memanggil' Primrose Everdeen alias Prim sebagai Tribute cewek. Katniss, yang sayang banget sama Prim di atas segala-galanya seketika mengajukan diri ngegantiin Prim. Belum beres shock-nya Katniss, dia dibikin mumet lagi setelah nama Tribute cowok diumumin. Peeta Mellark. Cowok ini bisa dibilang pernah nyelametin nyawa Katniss (dan keluarganya) satu kali. Pastilah Katniss ngga mau cowok ini jadi orang yang mesti dia bunuh di arena.

Singkat cerita, dua orang ini digiring ke Capitol, ibukota Panem, tempat mereka latihan dan mempersiapkan diri buat Hunger Games. Ketika dia menghadapi Hunger Games, segala-gala yang terjadi di arena juga bikin Katniss bingung, masih ditambah dia harus struggling sama perasaannya sendiri. Di sini Katniss mulai mikir, kalopun dia bisa menang, hidup kaya raya, apa bener semuanya bakal berakhir sampe di situ dan semudah itu?

Selama dua hari baca buku ini, perasaan saya kaya diaduk-aduk. Dengan penuturan cerita dari sudut pandang orang pertama, saya menempatkan diri sebagai Katniss, yang punya tanggung jawab sama keluarganya, yang mengakibatkan dia masuk lebih dalam ke lubang malapetaka. Katniss juga bukan tipe cewek menye-menye. Dia ngga punya romantic affair dengan siapapun. Katniss bahkan ngga kepengen nikah dan punya anak karena takut anaknya bakal dipanggil buat ikut Hunger Games dan mati di sana. Dia membentuk dirinya jadi cewek yang kuat buat keluarganya, walau ternyata secara mental dia tetep butuh orang lain untuk jadi sandaran. Di arena justru Katniss mengenal para Tributes yang menyikapi Hunger Games yang berbeda-beda. Seperti Rue, cewek dari Distrik 11 yang ngingetin Katniss sama Prim. Mereka akhirnya jadi sekutu di arena, menjalin hubungan kakak-adik, dan ketika adegan Rue mati terbunuh di depan matanya Katniss, mata saya ngga bisa ngga berkaca-kaca. Ketangguhannya di kehidupan nyata sama hebatnya dengan di arena. Secara pribadi, saya acung lima jempol buat Katniss. Saya yang sarjana biologi aja belum tentu bisa bertahan hidup di alam. Tapi cewek ini sukses banget survive hidup di hutan begitu rupa.

Daaaannnn, dua cowok Gale Hawthorne dan Peeta Mellark dimunculkan sebagai orang-orang dengan posisi yang signifikan buat Katniss. Sejak dulu Gale adalah satu-satunya sahabat Katniss. Mereka selalu berburu bareng dan sama-sama jadi tulang punggung keluarga. Gale adalah satu-satunya cowok yang bisa bikin Katniss nyaman berbagi rahasia. Itulah kenapa Katniss bisa 'nitipin' keluarganya ke Gale

Sedangkan Peeta, dia adalah tokoh utama yang full diekspos di buku ini. Secara buku ini kebanyakan cerita tentang kehidupan Katniss di arena Hunger Games dengan dia sebagai teman satu distriknya. Peeta adalah sosok cowok yang menurut saya punya kepribadian yang langka. Dia memegang teguh pendiriannya ngga mau jadi boneka dalam permainan Capitol, walau dia sendiri ngga tau gimana caranya. Sifatnya bertolak belakang sama Katniss: kalem, punya kepandaian public speaking di atas rata-rata, sedikit emosional, dan (ini yang asli bikin meleleh) romantis parah. Dia tau kalo satu-satunya cara nyelametin hidupnya dan Katniss adalah dengan menjalankan strategi kasmaran. Tapi siapa yang tau kalo ternyata semua strategi kasmaran itu bukan sekedar strategi? Apalagi di arena mereka berbagi affection, saling melindungi dan sebagainya. Perasaan Peeta dibuka lebar-lebar di sini. Yang malah bikin perasannya Katniss tambah runyam.


Namanya juga buku young-adult, romantisme dapet porsi yang besar di buku ini. Adegan romantis ini jadi penyeimbang sempurna buat tema politik yang disorot jelas. Romansa itu juga menurunkan tensi cerita yang lumayan bikin deg-degan, gimana Katniss 'dikerjain' di arena. Kisah cintanya Katniss-Peeta, entah nyata entah stategi, ternyata berbalik mengancam kuasa absolut sang presiden. Ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri permainan dengan cara tak terduga, sang penguasa marah besar. Dan berakhirlah buku pertama. Terus, gimana kelanjutannya? Ngga mungkin dua tokoh utama kita lolos gitu aja kan? Dan gimana kelanjutan strategi kasmaran mereka? Eh tunggu, strategi? Atau.... Sebenernya bukan?

Ini saya baru ngebahas bukunya, belum ngebahas filmnya. Besok lagi ya. Ini juga udah kebanyakan cerita, walaupun sejujurnya saya belum puas menggali bukunya, terutama bagian lope-lopenya. Hehehe.... 

Apapun yang terjadi, seengganya satu pelajaran harus bener-bener saya garisbawahi dari buku ini: Jangan pernah mau disuruh pura-pura jatuh cinta sama seseorang. Kalo suka beneran, REPOT!! XD
 

Confessions of A Not-It Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea