Friday, October 2, 2009

Pangeran Kodok

Posted by Icha at 7:50 PM 0 comments
Sebenernya malem ini niatnya saya mau nyicil dasar teori laporan Fisiologi Hewan alias Fiswan, cuma ngga tau kenapa tiba-tiba keilangan mood. Yaudah, daripada dipaksain hasilnya malah berantakan, saya pending dulu aja ngerjain laporannya. Toh bahan udah ada, tinggal gabungin. Sekarang saya pengen cerita tentang kodok.

Semua berawal dari praktikum Fiswan hari Rabu. Saya tergabung dalam kelompok 4 yang hari itu kebagian tema endokrin. Preparat yang harus kami bawa adalah Bufo melanostictus yang punya panggilan sayang: kodok. Kodok yang dibawa juga bukan sembarang comot, melainkan haruslah kodok pria sejati. Becanda, kodok jantan maksudnya. Nah, setelah praktikum yang penuh kehebohan, di antara beberapa praktikan cewek (termasuk saya), mulai terdengarlah kata-kata 'Pangeran Kodok' yang menggema di mana-mana.

Sebenernya dua kata ini pertama kali saya denger dari mulut seorang sobat (yang saya panggil Mommy) waktu lagi bisik-bisik curhat tentang gebetannya sehari setelah praktikum. Malemnya saya ngerjain tugas sambil dengerin Memory Puzzle, salah satu instrumental dari drama Asia yang judulnya A Prince Who Turns Into A Frog. Tambah berkhayal punya Pangeran Kodok beneran saya.

Siang tadi di kampus, saya dan dua temen cewek iseng nongkrong di depan papan pengumuman di lantai 2. Terus entah dari mana awalnya kami tau-tau udah ngobrol seru tentang 'Pangeran Kodok' masing-masing (lagi). Saya ikut keketawaan aja mengingat saya ngga punya 'Pangeran Kodok' untuk dibicarain. Hehehe.....

Ngiriiii siiihhh..... Ngga bohong itu. Hampir semua temen saya udah punya '
Pangeran Kodok'-nya sendiri. Ada yang udah resmi, udah engaged, atau minimal udah membidik siapa 'Pangeran Kodok'-nya itu. Lha saya?? Boro-boro mau bilang namanya siapa, saya aja belum mutusin siapa yang mau saya jadiin Pangeran Kodok buat diri saya sendiri.

Dan di tengah keketawaan saya dengan teman-teman siang tadi, saya nyumpel kuping pake headset dan pas di lagu Pacto de Amor, salah satu soundtrack telenovela jadul berjudul Amigos yang barusan saya dapet tadi pagi, saya nulis dua bait puisi.

Aku suka kau saat tersenyum,
kau yang kuat,
kau yang bisa diandalkan,
kau yang pandai dalam segala hal.

Tapi aku cinta kau saat menangis,
kau yang lemah,
kau yang butuh tempat bersandar,
dan kebodohanmu saat berhadapan denganku.

Transformasi yang sempurna, kan? Kita menyukai seseorang karena kelebihannya, tapi mencintainya karena kekurangannya.

Dan saya yakin, kalau Pangeran Kodok saya, yang di jari kelingkingnya tersimpul salah satu ujung benang merah tak kasat mata yang ujung lainnya terikat di jari kelingking saya, entah siapapun dia, membaca puisi ini, pasti dia bakal tersenyum lebaaaarrrrr banget sampe kebawa mimpi. Hehehehehehe.....

Saturday, September 12, 2009

Anger (Management)

Posted by Icha at 7:16 PM 0 comments
Dua hari ini saya marah.

Saya marah karena adik tingkat yang (menurut saya) rese.
Saya marah karena (merasa) Papa ngga nepatin janjinya sama saya.
Saya marah karena (merasa) para sepupu ngga mau memaklumi tanggal mudik saya yang mepet gara-gara masih ada kuliah.
Saya marah karena kangen dengan seseorang, tapi ngga bisa berbuat apa-apa untuk mengekspresikan rasa kangen itu.
Saya marah karena Mama nelpon saya dan ngajak ngobrol tentang tanggal mudik di saat yang ngga tepat, saat saya sedang marah.
Saya marah karena seluruh dunia seolah nyuekin saya. Felt like being ignored.

Kemarin, teman-teman saya juga marah.

Mereka marah karena adik tingkat yang (menurut mereka) ngga tau diri.
Mereka marah karena event besar yang sudah direncanakan sejak lama (rasanya) dihancurkan begitu saja.
Mereka marah karena 'atasan' yang (menurut mereka) sewenang-wenang dan plin-plan.
Mereka marah karena seluruh dunia seolah ngga berpihak pada mereka.

Pun, kemarin para 'atasan' juga marah.

Mereka marah karena mereka (merasa) dilangkahi.
Mereka marah karena (menurut mereka) event yang tengah digarap ngga ada manfaatnya.
Mereka marah karena (menurut mereka) kami keras kepala.
Mereka marah karena seluruh dunia seolah ngga sejalan dengan mereka.

Kami marah karena seluruh dunia seolah ngga mau nurut sama kami.

Bukan masalah kalau kita marah.
Bukan masalah karena marah adalah ekspresi yang wajar ketika hidup ngga sesuai harapan dan keinginan.
Kemarahan bukanlah masalah.

Masalahnya adalah bagaimana kita mengekspresikan kemarahan.
Apakah teriak-teriak ngga jelas?
Apakah marah pada orang yang tepat?
Atau malah marah-marah sendiri, teriak-teriak sendiri, padahal objeknya ngga ada di situ?
Apakah marah dengan style destruktif? Membanting pintu? Melempar barang?
Apakah marah dengan menyakiti orang? Main tonjok? Main pukul?
Apakah marah dengan otak? Negosisasi? Bicara baik-baik?
Apakah kemarahan itu terlampiaskan dengan benar?
Ataukah sebaliknya? Terpendam dan tak terucapkan?

Yang mana aja boleh. Yang manapun tergantung kita. Tapi seharusnya dalam keadaan marah pun kepala tetap dingin. Berpikir, yang mana style paling baik yang akan kita pilih saat marah. Kita marah karena ingin sasaran tau isi hati dan mau kita. Kita marah karena ingin sebuah kompromi, sebuah pemakluman. Kita marah bukan bertujuan melukai orang, menyakiti hati orang. Kita marah bukan mau ngancurin rumah.

Mungkin juga kita belum clear marah sama siapa. Bisa jadi kemarahan yang rasanya ngga habis-habis adalah tanda bahwa sebenarnya kita marah pada diri sendiri. Dan kalau itu terjadi dan kita sadar, ngga ada cara lain untuk mengatasinya selain mengompromikan diri sendiri dengan keadaan. Bicara dengan diri sendiri, memberi pemakluman pada diri sendiri.

Dan yang lebih penting, marah pada objek secara tepat. Menurut saya aneh banget kita marah-marah atau ngga setuju sama seseorang dengan cara teriak-teriak, maki-maki tapi ngga di depan orangnya langsung. Demo di depan kantor walikota, padahal walikotanya ngga ada. Atau marah-marah dengan nulis status di facebook, padahal yang mau kita damprat belum tentu baca. Jujur, saya kadang juga ngelakuin itu, apalagi saat kemarahan saya ngga tertahan. Tapi kejadian dua hari yang lalu bikin saya sadar. Marah-marah kaya gitu keliatan bodoh banget. Dan sejujurnya saya pribadi pengen menghilangkan kebiasaan itu.

Karena itu juga saya jadi ingat perkataan seseorang di message Friendster saya 2 tahun yang lalu.

"Lo kalo mau marah langsung ke gw aja. Jangan dilampiasin ke orang laen!!"

Kadang saya juga mikir, saat marah mending langsung curhat aja. Sama Mama, sobat, atau diary. Kaya kata Tibby di The Sisterhood of The Traveling Pants.

"Well, maybe sometimes it's easier to be mad at the people you trust."

Cara yang lebih ampuh? Wudhu terus sholat. Selanjutnya ikhlasin semua ama Yang Di Atas.

Ready for the anger management?

Tuesday, September 8, 2009

Coretan Pertama

Posted by Icha at 2:53 PM 0 comments
Hari ini bisa dibilang 'one of the best days of my life'. That's because this day I've (finally) got the first mark on my dreamlist!! Yup, hari ini coretan pertama itu nongkrong di no. 22, dengan kata lain mimpi no. 22 saya udah tercapai.

Jadi sebenarnya mimpi itu sudah tertulis dalam list saya sejak semester 4 yang lalu. Nah, kisah perwujudan mimpi itu berawal dari ajakan temen saya, Fikar, yang dia utarakan pada saya menjelang liburan.

"Cha, daftar jadi asisten biokim [biokimia], yuk," kata dia waktu itu.

Saya ngangguk dan tanpa pikir dua kali mengiyakan ajakannya. Secara jadi asisten emang ambisi saya sejak dulu, tapi belum kesampean gara-gara kendala jadwal. Makanya mumpung ada yang ngajak ya saya iyain. Siapa tau di sanalah peruntungan saya terbuka. Waktu liburan ngga lupa saya bicarain rencana mewujudkan mimpi ini sama Mama. Mama dengan senang hati menyetujui dan pastinya mendoakan saya. ^_^

Awal semester 5, keributan KRS-an yang lumayan bikin emosi nyaris menggagalkan mimpi itu. Karena kuliah jadi prioritas utama, otomatis saya ngambil MKP [Mata Kuliah Pilihan] yang sesuai ama minat dan (insya Allah) bakat. Salah satu yang saya ambil adalah mata kuliah Patogenesis Bakteri (selanjutnya disingkat PB). Ngga tau kenapa, kaya ada sesuatu di mata kuliah itu yang 'memanggil' saya (halah, lebay). Di jadwal, PB jatuh pada hari Senin jam ke-7 & 8. Eh, taunya jadwal praktikum biokim juga hari Senin mulai jam ke-8. Itu artinya jam PB saya bentrok dengan jam praktikum biokim. Wah, udah pesimis saya. Terus saya berniat ganti mata kuliah, ambil Bioinformatika yang ngga bentrok biar bisa ngasistenin. Tapi di saat saya nyaris melaksanakan niat itu, nasihat bijak sahabat saya, Dea, menyadarkan saya. Katanya,"Cha, ngapain sih, elo pake bela-belain ambil matkul yang lo ngga suka? Daripada ntar lo ngga enjoy kuliah terus nilai lo ngga maksimal. Udahlah, mending ambil yang lo suka aja. Soal ngasistenin ya mungkin belum rejeki." Jujur aja, saya emang ngga minat (dan ngga bakat) dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer. Akhirnya saya bertahan dengan rencana semula, tetep ambil PB dengan segala risikonya.

Usai KRS-an, beberapa hari kemudian saya iseng nengok papan pengumuman. Ternyata udah ditempel 'urgently required' untuk asisten biokim. Saya nyaris bersorak ketika satu kalimat membuat balon harapan di dada saya kembali mengempis.

Tidak mengambil mata kuliah lain pada jadwal praktikum Biokimia.

Selesai sudah, batin saya. Dengan ini saya bener-bener ngga bisa jadi asisten biokim. Walau kecewa, saya tetap tersenyum dan berusaha ikhlas. Sepulang kampus, saya segera telepon Mama. Saya ceritain tentang pengumuman tadi, terus saya bilang, saya pasrah aja (mengingat ambisi terpendam yang ngga kunjung terlaksana ^_^). Saya ikhlas kalau nyatanya semester ini saya lagi-lagi gagal jadi asisten. Mama setuju 100% dan ngasih pesan cinta plus berbagai motivasi supaya saya ngga menyerah dan terus berjuang. Dan saya emang ngga menyerah kok. Saya lampiaskan ambisi itu dengan mengisi aplikasi untuk asisten mata kuliah lain yang kebetulan jadwal saya free.

Tapi teori Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu emang bukan bohong belaka. Allah SWT memang tau pasti keinginan hati saya yang terdalam. Kebetulan dosen PB dan dosen biokim adalah orang yang sama. Nah, di jadwal tertulis kuliah biokim (untuk semester 3) adalah jam ke-6 & 7, sementara kuliah PB kebagian jatah jam ke-7 & 8. Otomatis ada bentrok di jam ke-7, kan? Karena sang dosen ngga mau ngorbanin salah satu, jadilah kuliah PB dipindah ke hari Jumat. That means hari Senin jam ke-7 & 8 saya kosong!! Artinya lagi, saya punya kesempatan jadi asisten biokim. Ucapan syukur Alhamdulillah ngalir berulang kali dari mulut saya. Hari berikutnya saya langsung nemuin sang dosen dan menyatakan diri ngedaftar jadi asisten. Dengan senang hati dosen itu menyodorkan notes dan minta saya menuliskan nama. Alhamdulillah, prosedur dipermudah, ngga perlu nunjukin fotokopi KHS dan ribet-ribet lainnya. Di kelas, saya langsung ngasih tau Fikar supaya segera nyusul ngedaftar. Ngga nunggu lama, Fikar nitip daftarin ke seorang teman lain yang juga mau ngedaftar. Di rumah saya telepon Mama lagi untuk ngasih tau perkembangan ngga terduga ini dan minta doa supaya (syukur-syukur) bisa keterima.

Setelah itu, jujur, saya ngga terlalu mikirin lagi apakah saya keterima atau ngga. Cuma entah kenapa hari ini saat berangkat ke kampus saya membatin dalam hati, sepertinya menyenangkan kalau hari ini daftar asisten yang lolos diumumkan dan saya termasuk salah satu di antaranya. Saya hampir tersenyum sendiri dan melanjutkan perjalanan tanpa mikirin hal itu lagi. Namun keajaiban ikhlas ngga berhenti mendatangi saya. Sampai di kampus saya ngecek ke papan pengumuman dan menemukan daftar asisten biokim yang lolos. And guess what, nama saya terpampang di sana, di urutan pertama. Langsung bisa saya temukan tanpa susah-susah mencari. Saya ngga bisa menahan senyum dan mengucapkan syukur entah berapa kali. Saya langsung telepon Mama dan ngirim SMS ke sahabat saya nun jauh di sana (they were the first two people whom I shared my happiness with ^_^). Dan alhasil hari ini saya senyuuummm terus. Sampai rumah saya hias dreamlist dengan coretan pertama di nomor 22. Alhamdulillah.....

Mungkin bagi sebagian orang, bermimpi jadi asisten praktikum ngga masuk hitungan. Bahkan mungkin ada yang menganggap cuma jadi asisten aja kok bangga. Well, itu memang mimpi yang ngga seberapa. Ngga dipungkiri, jadi asisten praktikum honornya ngga seberapa, paling cuma ketambahan sertifikat. Imbalannya bisa dibilang ngga asyik, belum tambah capeknya ngasistenin sampai sore, ngadepin praktikan yang banyak tingkah, melawan bad mood setelah seharian beraktivitas, disusul tanggung jawab ngoreksi pretes dan laporan. Baaahhhh.....

Anyway, kebahagiaan sesungguhnya adalah mendapatkan apa yang tak terlihat. Siapa yang ngga bangga dapet kepercayaan dari dosen meng-handle praktikum (yang kadang-kadang diselenggarakan tanpa kehadiran mereka), ditanyai praktikan ini-itu, belajar bikin soal pretes dan responsi, belajar nyiapin reagen dan cara menanganinya, dapet extra-time make jas lab ('pakaian kebesaran' yang bikin saya selalu merasa jadi dr. Meredith Grey di Grey's Anatomy tiap kali memakainya^_^) dan yang ngga kalah membanggakan, penghargaan dari praktikan kalau kita sukses membimbing, mengajari, dan menjadi asisten yang baik buat mereka. Semua itu adalah imbalan yang sesuai untuk profesi asisten praktikum. Hehehehehe..... :-D

Dan yang lebih penting, saya bisa meneruskan jejak alm. Opa yang dulunya juga jadi asdos waktu kuliah. ^_^

Well, 3 pelajaran saya dapatkan hari ini: sabar, ikhlas, ngga menyerah. Semoga saya ngga pernah melupakan tiga hal itu supaya ngga perlu menunggu lama untuk mencoreti dreamlist lagi.

P.S: buat Fikar & Alfin, congratulations, guys!! Moga kita bisa bekerja sama dengan baik yaaa..... Buat Mba Ana, Mba Mus, Mba Mita, Mba Sari, en Mba Nungma, mohon bantuannya..... ^_^

Friday, September 4, 2009

Why Should Be in Denial?

Posted by Icha at 5:41 PM 1 comments
Kadang sesuatu yang paling kita hindari atau kita sangkal adalah sesuatu yang sesungguhnya paling kita setujui atau senangi atau inginkan.

Fakta yang lucu, kan? Kadang kita bilang engga untuk sesuatu yang sesungguhnya sangat kita inginkan cuma gara-gara gengsi. Atau kita menggelengkan kepala untuk suatu hal indah yang tersaji di depan mata hanya karena takut dengan omongan orang. Atau mungkin kita melakukan semua itu karena ego pribadi, prasangka yang terdoktrin di otak, barangkali juga trauma.

Itulah kenapa saya ambil gambar Elizabeth Bennet dan Mr Darcy dari film favorit saya sepanjang masa, Pride and Prejudice buat entry ini. Siapapun tau, dua orang yang jadi couple legendaris ini terlibat kisah cinta BBC alias benci bilang cinta. Pada intinya, mereka ogah mengakui kalau sebenarnya di hati masing-masing ada rasa kagum (dan akhirnya berkembang jadi sayang) untuk lawannya. Dan semua itu terjadi karena mereka sering berantem!! Oke, mungkin bukan cuma karena itu. Tapi apapun alasannya, toh pada akhirnya mereka mengakui kalau mereka sudah saling jatuh cinta.

Jujur, saya suka tersenyum geli sendiri kalau nonton tingkah couple ini di film. Geregetan gitu, kenapa sih, ngga ngaku aja kalo sama-sama suka. Tapi di dunia nyata (saya ngalamin sendiri, serius) memang lebih gampang menyangkal sesuatu yang paling kita inginkan. Apalagi kalau sesuatu itu berhubungan dengan perasaan dan menyangkut masa lalu. Ceileh..... Kita bilang ngga pengen balikan sama mantan, padahal sebenernya masih cinta setengah mati. Atau kalau kasusnya So Yi Jeong di Boys Before Flowers, bilangnya ngga percaya soulmate, padahal dalam hatinya udah terpatri bahwa cinta masa kecilnya adalah soulmate yang selama ini ngga pernah terucapkan.

Saya ngga munafik. Mungkin sekarang saya sedang mengalami hal yang sama. Ngga persis sama kaya kasusnya Lizzie-Darcy, tapi lumayan bikin saya frustrasi . Dan saya bertanya pada diri sendiri: why should be in denial ?? Saya bukan orang yang high-pride, juga bukan orang yang terbelenggu trauma masa lalu. Namun penyangkalan rupanya seperti jurus terbaik menghindari masalah: melarikan diri. Menghadapi ngga berani, tapi membuang jauh-jauh juga ngga bisa karena rasanya yang begitu enak di hati.

Mungkin cuma butuh keberanian. Mungkin juga cuma butuh waktu. Mungkin juga karena saya dan dia (^_^) belum yakin sama perasaan kami masing-masing. Dan mungkin saya juga ngga perlu terus-terusan menyangkal. Kalau memang membahagiakan kenapa harus disembunyikan? Bener ngga?

Friday, August 28, 2009

Jadi Kakak!! Yeaaahhh.....!!!

Posted by Icha at 7:36 PM 0 comments

Ogenki desu ka, Minna-san!! Setelah lama ngga posting karena berbagai kesibukan—mulai dari sibuk nggarap laporan, ngurusin event HIMABIO, melaksanakan kewajiban akademis sampe berbakti pada ortu alias liburan di rumah ^_^—akhirnya saya bisa menampakkan wajah lagi di depan Anda semua. Oiya, sebelumnya saya mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa buat sodara-sodara kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia. Maaf lahir batin atas semua kesalahan dan kekhilafan, baik yang disengaja maupun tidak. Pokoknya diikhlaskan yaaa.... Okeh?



Penghujung bulan Agustus ini adalah saat stopwatch mulai dihidupkan. Dengan kata lain, tanggal 31 Agustus 2009 adalah saatnya saya menolakkan kaki di titik start untuk berlari sepanjang lintasan semester 5. Wuidih..... Jadi mulai tanggal itu resminya saya udah jadi sophomore, udah punya 2 ade angkatan. Hehehe..... Predikatnya beneran ‘kakak tingkat’ nih sekarang. Weits, udah tua, dong? Wah, kalau dibilang tua ya belum lah ya. Dewasa kek gitu istilahnya (menyamarkan.com). Yang jelas, diakui atau tidak, angkatan saya sekarang jadi kakak tingkat penguasa kampus. Secara angkatan di atas saya udah pada lulus dan yang paling anyar (angkatan 2006) udah pada skripsi. Otomatis jarang ngetok di kampus toh? Hati-hati aja kalian para junior. Hwakakakakakakaka..... Husss, keterusan.....



Di bulan kemerdekaan ini pula saya dapet gift (atau malah curse???) dengan didaulat jadi kakak buat ade sepupu saya. Kebetulan dia keterima di univ yang sama dengan saya, cuma beda fakultas. Alhasil dirinya yang belum menguasai tetek-bengek ospek otomatis nanya ke saya. Ditambah, si Dede (panggilan saya buat dia) ngga ngerti tata kota tempat kami kuliah ini. Maksudnya dia belum tau kalau mau beli apa mesti ke mana atau hot spot buat apa ada di mana. Maklum lah, dia ngga pernah tinggal di kota ini lebih dari seminggu (belum terkonfirmasi, harap jangan langsung percaya ^_^). Jadilah saya yang senior didapuk membimbing ade, termasuk jadi guide buat antisipasi masa ospek dan awal-awal kuliah. Saya jadi mikir, betapa beruntungnya dia, masih ada orang yang bisa ditanyai. Lha saya dulu, mau nanya ama siapa??



However, saya seneng kok dimintai tolong dan nemenin dia kalau ada apa-apa yang menyangkut kehidupan seorang freshman (halah). Seru walau agak nyebelin (karena sifat dasar Dede yang nyantai dan easy going PARAH). Contoh nyata aja ya, beberapa hari yang lalu saya nemenin dia belanja buat keperluan ospek—yang aneh-aneh dan nyarinya mesti mencar-mencar—dan kami baru berangkat dari rumah tantenya (FYI, dia sementara nginep di rumah tante dari papanya) jam setengah delapan malem. Padahal dia disuruh beli perangko. Jam segitu mana ada kantor pos masih buka? Ke kantor pos pusat? Males banget, jauh teuing. Untungnya kejadian itu bikin dia introspeksi dan besoknya dia ngga nunda-nunda lagi beli barang-barang buat ospek. Begitu ospek hari itu beres, dia langsung SMS saya, nanya kantor pos. Syukur.....



Anyway, sepertinya ngga cuma dia yang belajar dari kejadian tadi, tapi saya juga. Belajar jadi kakak!! Serius. Sampai detik ini, dari lahir sampai (Alhamdulillah) umur 20 tahun, saya ngga pernah ngerasa bener-bener jadi kakak. Secara emang saya ngga punya ade dan saya sendiri dari dulu pengennya punya kakak (ngga nyambung). Dipasrahi ade sepupu kaya gini bikin saya jadi bertanggung jawab dan termotivasi untuk selalu menuju ke arah lebih baik. Beneran lho, ekstra!! Kan di sini saya jadi panutan. Selain itu saya jadi lebih akrab ama Dede. Jadi sering ngobrol dan saya juga kadang ngecek kondisi dia. Karena dia cowok, saya pun yakin kalau dia juga merasa punya tanggung jawab ngejagain Mbak-nya. Saling care lah.



Dapet tanggung jawab jadi kakak emang bikin saya merasa punya beban tambahan, tapi saya bersyukur, kok. Saya merasa honoured dan dipercaya sama om tante (orang tuanya Dede). Also, pastinya inilah kesempatan untuk meng-upgrade diri untuk jadi lebih dewasa, baik dalam perkataan, pemikiran, maupun tingkah laku. Dan saya rasa saat ini sangat tepat buat saya untuk mengakui satu hal: ternyata punya adik ngga buruk-buruk amat, kok. ^_~



P.S: buat Dede, semangat jadi freshman!! Awali kuliah dengan baik, biar ke depannya melaju terus. Syukur-syukur sprint, terus cepet lulus deh..... ^_^

Friday, June 5, 2009

Tak Harus Luar Biasa

Posted by Icha at 10:11 PM 0 comments



Jumat malam (05062009), sebenernya saya udah ngantuk banget. Tapi jam 9an, Mama ngirim SMS, ngingetin kalau malam ini ada acara favorit kami berdua diputar di tivi: Final Pemilihan Miss Indonesia 2009. Saya sama Mama emang suka banget nonton acara ini. Setiap kali ada pemilihan putri-putrian model begini, ngga pernah absen rasanya saya dan Mama mantengin tivi. Padahal keputusan final kepala siapa yang bakal dipasangi mahkota bisa jadi baru diumumkan tengah malam, tapi ngga urung kami jabanin juga.

Tujuan utamanya sih, bukan sekedar ngomentarin tampang cantik para finalis. Sesi favorit saya dan Mama adalah sesi pertanyaan. Tau lah, para finalis yang terpilih masuk 10 besar dikasih pertanyaan dari juri atau teman sesama finalis dan mereka harus memaparkan jawabannya dalam waktu yang sudah ditentukan. Pertanyaannya bisa macem-macem. Tentang pariwisata, perempuan, politik sosbud, apalah yang lain. Dan biasanya pertanyaan yang diberikan menyangkut peristiwa-peristiwa yang sifatnya kontroversial. Kadang pertanyaan juga sifatnya simpel aja, tergantung siapa yang memberi pertanyaan.

Bagian favorit saya, kalau finalis ditanya tentang pertanyaan yang simpel tapi menuntut jawaban yang filosofis, diplomatis, plus puitis (halah.....), such as "siapa orang yang paling memberi inspirasi dalam hidupmu?", "akan jadi apa dirimu lima tahun ke depan?", dan semacemnya. Karena pada dasarnya saya suka segala macem ungkapan yang bahasanya agak berat (baca: puitis asli parah!!), saya suka getem-getem kalau jawaban finalis ngga sesuai harapan. Misalnya aja ngga nyambung, kedengaran plin-plan, atau tata bahasanya berantakan. Kalau kejadian gini emang bukan berarti finalisnya bodoh, sih. Nervous gara-gara 'dipaksa' ngomong di depan juri, disaksikan Miss World/Miss Universe, plus orang se-Indonesia, belum ditambah tekanan waktu yang singkat dan tuntutan mengambil hati para juri bisa jadi faktor eksternal yang mempengaruhi kualitas jawaban.

Sejujurnya saya ngga terlalu terkesan dengan finalis yang punya kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata, punya banyak embel-embel gelar akademis yang nempel di depan dan belakang namanya, atau berwajah cantik blasteran. Saya juga ngga terlalu alert dengan bodi semampai putih langsing tinggi. Bagi saya itu bukan modal utama jadi Miss atau Putri yang layak dapat mahkota. Kenapa? Karena hal-hal yang saya sebutkan di atas bisa dipelajari oleh semua orang. Kalau mau, semua cewek di dunia pun bisa jadi seperti itu.

Lha terus, bagian mana yang mestinya dinilai lebih supaya bisa jadi Miss/Putri yang sebenarnya?

Jawabannya: kemampuan menghadapi life emergency. Gampangnya, in this case of course, menjawab pertanyaan dengan cepat sekaligus tepat dan ujung-ujungnya mampu 'merayu para juri' sehingga mereka berkenan merelakan mahkota ngejongkrok di kepala finalis yang bersangkutan. Hehehehe..... Ngga deng, becanda....

Nah, kembali ke jalan yang benar, bagian seriusnya adalah gimana mereka bisa menghadapi tekanan hidup yang sebegitu beragamnya dengan tetap menunjukkan wajah yang ramah, senyum manis, body language yang elegan, dan pastinya kalimat-kalimat cerdas yang menunjukkan bahwa merekalah putri yang sebenar-benarnya. Artinya ini berlaku ya ngga di atas panggung thok, tapi juga di luar acara-acara socialite yang saat itu mereka lepas dari gelar putri. Kasarannya gini lah, ngga ada gunanya punya sepuluh gelar kalau bawaannya panik dan gampang emosi menghadapi tekanan dunia kerja, dunia pergaulan, apalagi kalau ntar jadi Putri beneran. Ngga ada gunanya wajah cantik kalau langsung cemberut saat dapat kritikan pedas.

Ngga cuma sesimpel itu. Kemampuan mengambil keputusan, memberikan win-win solution adalah sesuatu yang mutlak dimiliki seorang Putri. Yang terpenting, kebaikan hati, kerelaan untuk beramal, dan semangat memperbaiki diri, serta memperkokoh iman adalah modal utama. Semuanya itu ngga bisa dipelajari secara formal. Ngga ada di kurikulum sekolah atau kampus mana pun di dunia. Harus kita yang mau belajar. Harus kita yang punya semangat berubah. Kemampuan kognitif apalagi bentuk badan, wah, itu sih, nomor kesekian. Putri sejati, bukan luarnya yang dicari, tapi apa yang tersembunyi tapi takkan bisa tertutupi.

So, ngga harus jadi luar biasa untuk jadi seorang Putri. Karena setiap cewe bisa jadi Putri. Bahkan, kita pun bisa!! All you have to do is let yourself shine. Show your light to the people around you!! ^_^

Wednesday, May 20, 2009

Semua Punya Gaya

Posted by Icha at 6:45 AM 0 comments
Gara-gara sibuk ngurusin praktikum kelompok dan agenda terdekat HIMABIO plus kegiatan bergaul dengan temen-temen baik di dalam maupun luar komunitas biologi, berapa hari ini saya benar-benar dihadapkan pada berbagai jenis orang. Walaupun secara konsep spesies biologi yang namanya manusia itu SEJENIS (alias Homo sapiens), tapi dalam kenyataannya biodiversitas manusia secara fenotipe mau ngga mau seakan menentang konsep tadi. Jadi biar sejenis, ternyata manusia sebenernya ada berbagai jenis. Nah lo, pusing, kan?

Okelah, ngga usah ngurusin jenis-jenisan segala. Toh alhamdulillah saya udah lulus taksonomi hewan, jadi ngga perlu diulang lagi pelajarannya. Yang jadi fokus obrolan saya sekarang adalah betapa manusia diciptakan dalam berbagai bentuk rupa dan sifat, yang kadang bikin salah paham manusia lainnya. Beneran, saya baru bener-bener ngerasain hal ini di semester 4. Maklum aja lah, beban SKS tiap matkul gede-gede, belum ditambah beban organisasi, bla bla bla. Ngga cuma saya, semua orang yang berinteraksi dengan diri ini pun ketauan aslinya.

Berawal dari beberapa minggu yang lalu, ketika salah seorang sahabat saya cerita bahwa seorang teman di luar komunitas menanyakan hal yang jadi privasi saya ke dia. Dan ternyata ngga cuma ke sahabat saya yang satu itu aja, dia tanya ke semua orang, ngga langsung ke saya. Saya muntab, asli. Begitu juga waktu sahabat saya yang lain jadian. Orang itu mbingungi. Nanya ke semua orang, termasuk ke saya tentang kebenaran berita itu, tapi ngga langsung nanya ke objeknya. Ngga dipungkiri, sahabat saya bete berat.

Melihat latar belakang perbuatannya, saya tau niatnya baik, cuma mungkin caranya aja yang salah. Merujuk istilah Mama, bener ning ora pener. Artinya kurang lebih niatnya benar, tapi caranya yang kurang tepat. Celakanya, kasus yang begini ini yang suka bikin orang salah persepsi terus mengakibatkan keretakan antara kedua pihak yang bersangkutan. Itu belum kalau pada dasarnya si objek lagi bad mood, bad day, sampai bad hair day. Wah, bisa tambah panjang urusannya.

Sebenarnya ngga ada masalah kalau kita, baik subjek maupun objek memahami satu konsep: ngga ada orang yang sama di dunia ini. Semua orang punya cara sendiri untuk mengungkapkan pandangannya terhadap suatu hal. Dan lagi-lagi kedua pihak-lah yang harus bisa memahami cara pandang lawan bicaranya. Contoh, kalau semisal saya dihadapkan dengan orang yang gampang ngerasa 'dalem' (alias sensitif), mau ngga mau ngga bisa kan saya pake cara blak-blakan untuk mengkritik suatu perbuatan dia yang bagi saya kurang pas. Gitu juga sebaliknya.

Makanya mungkin benar juga makna suatu kalimat yang pernah saya temukan (entah di mana, saya lupa sumbernya). Kita tidak bisa membuat orang lain menjadi seperti yang kita inginkan; yang bisa kita lakukan hanyalah menyesuaikan diri dengan cara pandang orang di sekitar kita. See?

Ngga ada yang salah dengan menjadi diri sendiri, baik dalam hal style pakaian, cara bicara, cara bersikap, sampai cara memandang hidup ini. Namun kita juga harus ingat, kita hidup ngga sendiri. Ada banyak jenis manusia di sekitar kita. Dan semua manusia, semua orang punya gayanya sendiri-sendiri. Respect yourself before you respect others, but respect others first if you want them to do the same thing to you!! ^_^

Thursday, April 2, 2009

Best Dances-Cha's Version

Posted by Icha at 5:26 PM 0 comments


Cewek identik dengan drama. Dan ngga munafik, sebagai cewek sejati (ceileeehhhh.....), saya sangat menggandrungi film-film drama yang romantis. Secara ya, saya tuh belum nemuin true love, jadi wajar kan saya ngiler gitu kalau liat adegan-adegan penuh cinta di film drama. Hehehehehe..... Jadi ngelantur ngga genah gini.....

Kembali ke poin awal, saya emang cinta banget ama drama. Terutama drama yang ada adegan dansanya. Buat saya, adegan dansa adalah salah satu kriteria suatu film dikategorikan sebagai drama romantis. Jadi sekarang saya pengen share sama temen-temen semua Top 5 Dancing Scenes versi saya. Di sini akan saya beberkan adegan dansa favorit saya berikut nama film dan alasannya. Here they are.

1. Sam Montgomery & Austin Ames (A Cinderella Story)
Ngga ada yang kurang dari adegan dansa yang satu ini: Sam dengan gaun Cinderella-nya dan Austin yang pangeran abis, gazebo berhias semak mawar, plus life music yang slow-romantic banget. Dansa yang tradisional, sederhana, manis, tapi pastinya berkesan banget buat yang nonton adegan ini. Kalo ngga percaya, silakan liat di gambar yang saya pajang di awal entry ini. What a perfect dance!!

2. Bella Swan & Edward Cullen (Twilight)
Poin plus: lagunya!! Meski dress dan latar dansa mereka ngga semanis A Cinderella Story, tapi lagu 'Flightless Bird, American Mouth'-nya Iron & Wine ngga ada duanya. Bahkan tiap kali saya muter lagu ini di player, saya ngga tahan untuk ngga ngebayangin berdansa seperti Bella dan Edward. Ngga lupa juga waktu Edward menumpukan kaki Bella di atas kakinya dan mereka berdansa seirama. So sweet.....

3. Elizabeth Bennet & Mr Darcy (Pride and Prejudice)
Dansa yang tergolong aneh karena di tengah dansa mereka masih sempat berantem!! Mr Darcy yang dingin, ketus, dan (tampak) ngga pedulian mana bisa semenit tahan ngga berantem ama Elizabeth yang keras plus idealis, bahkan dalam suasana dansa yang harusnya jadi momen bagus buat mereka untuk saling kenal. Tapi itulah yang bikin saya selalu terkesan sama adegan dansa di film ini. Soalnya bisa dibilang berawal dari sinilah perasaan cinta tumbuh di hati Elizabeth dan Mr Darcy. Biar ngga romantis adegan ini senantiasa mengingatkan saya akan satu hal: cinta ama benci itu bedanya tipis!!

4. Anna Leonowens & King Mongkut (Anna and The King)
Dansa yang mellow parah. Ini adegan dansa yang paling bikin saya sedih. Gimana engga, Anna dan sang raja sebenernya saling cinta, tapi karena begitu banyak perbedaan, mereka ngga bakal bisa bersatu. Dan semua perasaan mereka yang terpendam tumpah ruah dalam dansa semalam waktu pesta pembesar negara. Adegan dansa di film ini masuk top 5 bukan karena lagu atau latar atau suasananya, tapi karena feel-nya yang menyentuh banget. Uuuhhhh, jadi pengen nangis..... *lebay

5. Tyler Gage & Nora Clark (Step Up)
Ngga usah diragukan lagi, this is a really dancing-movie!! Secara Channing Tatum kan dancer. Emang sih, di film ini dansanya ngga model slow-dance gitu, hampir semua justru breakdance. So, cuco banget kan Channing Tatum dipasang di film ini. Dan adegan favorit saya adalah waktu Tyler dan Nora latihan menari di rooftop. Keren banget deh! Walaupun jauh dari slow, tapi tetep ngga mengurangi romatisnya dancing mereka. Apalagi setelahnya mereka beneran sadar bahwa mereka meant to be together. Keliatan lah, dansanya aja udah ngga usah pake gerakan terencana. He'll be ready to catch her anytime!!

Nah, itu dia adegan-adegan dansa favorit saya. Kalo ada yang mau nambahin atau punya komentar, ngga usah sungkan untuk speak up yach. Met berdansa, guys!!

Sunday, December 28, 2008

KKL Biologi Angkt. 2007: 3 Hari untuk Selamanya

Posted by Icha at 12:58 PM 0 comments


Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Taksonomi Tumbuhan
Biologi UNS Angkatan 2007
Bogor, 19-21 November 2008

3 Hari untuk Selamanya?? Kok kaya judul film??
Pasti itu yang terlintas di benak teman-teman pembaca. Ada alasan kenapa saya meminjam judul film yang dibintangi Adinia Wirasti dan Nicholas Saputra itu untuk entry yang satu ini. Dan saya merasa ngga perlu menjelaskan alasan itu karena teman-teman akan menemukannya dalam cerita saya. Hehe..... Ya udah, ngga perlu berpanjang-panjang lagi, ini dia reportase lengkap KKL Biologi Angkt. 2007 ke Bogor tanggal 19-21 November kemarin (tahun kemarin kaleee..... LOL).

Jadi KKL ini dilaksanakan dalam rangka menggenapi nilai praktikum Taksonomi Tumbuhan alias TT sebagai salah satu cara supaya mahasiswa bisa mengaplikasikan mata kuliah ini di dunia nyata. Wuedeh..... beraaattt..... Dan itu juga alasan ngga langsung kenapa Bogor yang dipilih. Secara Bogor hot spot-nya tumbuhan gitu..... Tadinya sih ada usulan ke tempat yang deket-deket aja, asal bisa mewakili. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayanya ngga afdol kalo KKL matkul tumbuhan ngga di center-nya sekalian. Lagian bisa sekalian jalan-jalan (maunya). Akhirnya kami seangkatan plus 4 asisten dan 2 dosen cabut ke Bogor.

Kami berangkat dari Solo tanggal 19 November 2008, kumpul di kampus jam 13.00, tapi baru bener-bener berangkat jam 14.30. Gara-garanya kami harus nunggu Pak Marsusi, salah seorang dosen pengampu selesai ngajar. Hwaduh, kebanyakan dari kami (termasuk saya) langsung bete, soalnya kami udah bikin rundown acara yang rapi banget dan gara-gara itu susunan acara rusak berantakan. Tapi kebetean itu ngga bertahan lama ketika bus yang akan membawa kami menuju petualangan datang dan koper-koper dimasukkan. Semua langsung ambil seat dan pastinya sambil nunggu berangkat kami ngga menyia-nyiakan waktu. Narsis dulu dong..... ^_^

Ngga lama bruuummm..... bus pun bertolak ke Bogor. Goodbye for awhile, Solo!! Selama 12 jam lebih perjalanan kami diwarnai banyak kejadian konyol sampai adegan penuh air mata. Dan pada trip kali ini pun ketauan kalau bus kami kemasukan manusia yang paling gampang mabuk di dunia!! Orang itu adalah Kade. Begitu masuk bus, belum juga seperempat perjalanan, dia udah muntah-muntah. Pokoknya kalo melek dia pasti ngga tahan ngga mabuk. Sampai-sampai, sahabatnya, Tia, punya julukan baru buat Kade: Ratu Mabuk!! Terus di perjalanan kami juga sempat disuguhi pemandangan indah, yaitu kota Semarang di waktu malam. Kami kan lewat outer ring road, kebetulan jalan itu letaknya cukup tinggi sehingga dari situ kami bisa melihat lampu-lampu bertebaran di saentero Semarang yang berbukit-bukit. Romantis banget deh! Malam sebelum jam tidur, teman saya Kholis (atau yang akrab dipanggil Papi karena umurnya paling tua seangkatan) memutarkan video bikinan temen-temen cowok yang isinya kompilasi foto-foto kami dari sejak awal ospek sampai setahun jadi satu keluarga. Video itu ditutup dengan foto salah satu sahabat tercinta yang sudah meninggalkan kami semua, yaitu Intan. Setelah nonton, Papi memberikan sedikit petuah (namanya juga orang tua, hehe.....) tentang persahabatan dan kami pun menyanyikan lagu Kisah Cintaku milik alm. Chrisye untuk almh. Intan. Wuah, pas momen ini saya ngga bisa nahan untuk ngga nangis. Saya ingat pernah ngucapin satu kalimat ketika tahu kebagian duduk sendiri di bus,"Kalo sekarang masih ada Intan, dia pasti jadi temen duduk sebelahan gw". Mungkin saya bisa keceplosan gitu karena kangen juga sama Intan ya? Hikz.....

Keesokan paginya, waktu kedatangan molor berjam-jam daripada yang kami rencanakan. Secara udah dari Solo kesorean, ternyata kami kejebak macet di daerah Indramayu atau mana saya lupa, sampe 2-3 jam (atau mungkin lebih) karena bahkan lewat waktu Subuh kami belum masuk Tol Cikampek. Buat mengatasi bete, kami langsung buka bekal cemilan dan makan sambil ketawa-ketiwi. Tapi ada juga yang menggunakan waktu buat tidur lagi mengingat petualangan Miringhari ini bakal menguras tenaga. Sampai di penginapan, kebetean kami muncul lagi gara-gara Pak Marsusi yang menghendaki kami untuk bersiap-siap hanya dalam waktu setengah jam!! Gila apa? Sekamar kan isinya ada 6 orang (roommate saya Celin, Memey, Dian, Evi, dan Iis). Alhasil terjadilah keributan waktu giliran mandi. Berebutan dan mandi kilat khusus. Itu juga masih diteror temen-temen sekamar dengan gedoran pintu dan teriakan,"Woy, cepetan dong!! Gw juga mau mandi nih!!!". Tapi untungnya sukses juga kami sekamar mandi (walau ngga sabunan). Tapiii penghuni kamar seberang, Mba Ipung, keluar dengan muka berseri, badan wangi, dan rambut basah yang artinya bakda mandi keramas. Kok bisa ya???? Oiya, sebagai info, penginapan kami di daerah Ragunan ini merupakan camp mass-nya PERSIJA Jakarta, jadi kalau beruntung kita bisa nginep bareng sama Bambang Pamungkas dan skuad-nya. Tapi rupanya kami lagi ngga beruntung. Hehehehe.....

Selesai sarapan, kami bergegas masuk ke bus dan Bogor, we're coming!! Wah, buat saya yang tinggal di Bogor, rasanya seperti kembali ke rumah (dan inilah yang dijadikan bahan ledekan Papa saya,"Orang Bogor kok studi wisata ke Bogor". ^_^). Jadi dimulailah petualangan sehari di Bogor bersama Pak Marsusi, PakRatman, dan para asisten.

First destination: LIPI Cibinong. Namanya juga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, jadi ya di sini nih, pusatnya ilmu pengetahuan (terutama ilmu pasti) dan tentu saja gudangnya scientist. Karena matkulnya Taksonomi Tumbuhan, otomatis kami diajak menjelajahi gedung Botani. Usai pemutaran film tentang sejarah singkat LIPI, kami diajak menyaksikan langsung proses pembuatan herbarium. Dan ternyata, selain gudang ilmu dan gudang ilmuwan, LIPI juga adalah gudang herbarium. Ribuan spesies tumbuhan dikoleksi dalam bentuk herbarium basah dan kering. Ruangan untuk menyimpannya ber-AC dan sangat bersih. Rasanya jadi ngga mau pulang! Kami juga disambut ramah oleh seorang kakak tingkat yang udah lulus, Mas Agit (angkatan 2004) yang memang sudah kerja di situ. Waaahhhh..... Jadi makin ngga terbendung cita-cita saya untuk kerja di LIPI selepas kuliah nanti!!

Dari Cibinong, kami beranjak ke jantung kota Bogor. Yep, karena tujuan selanjutnya adalah Museum Etnobotani yang ada di Jalan Djuanda. Sebelum menjalankan misi dari Pak Ratman, ada pengarahan yang disampaikan seorang bapak yang wajahnya mirip dr. Boyke (serius! Ngga cuma saya loh yang bilang). Setelah itu kami nyebar kaya spy dan menjalankan tugas masing-masing.Ngga lupa, selesai ngerjain tugas, narsis dulu.


Ini foto kelompok 1 bareng asisten tersayang, Mba Milla.
Nah, kalau yang di bawah ini kami seangkatan narsis di depan museum. Yeeeaaaahhhh.....!!



Tujuan terakhir (dan terheboh hari ini) adalah Kebun Raya Bogor. Tanpa buang waktu, kami bergegas menyeberang jalan menuju Pintu 2. Tapi berhubung pintu ini ngga untuk umum, kami pun long march ke Pintu 1 yang lumayan jauh. Kebetulan saya juga janjian sama Mama di Bonray, jadi sambil nunggu temen-temen sholat, saya kangen-kangenan deh sama Mama. Di sini rombongan terpecah jadi 2, ada yang ngikutin Pak Marsusi dan ada yang ngikutin Pak Ratman. Saat itulah saya menyadari bahwa kebun raya yang dirintis Teysmann ini ternyata ngga dirancang untuk studi wisata dengan dosen yang jalannya supercepat. Itulah yang terjadi sama kami, entah mau sama Pak Marsusi atau sama Pak Ratman sama aja. Sama-sama bikin ngos-ngosan. Apalagi medannya naik turun begitu. Setelah sukses menjelajah, kami kumpul lagi di depan kolam Istana Bogor. Tentu saja acara sebelum kami balik ke penginapan ngga lupa bikin kenang-kenangan foto. Salah satunya adalah foto yang jadi opening entry ini. Yang lainnya ngga bisa saya tampilin semua, maaf yach.....^_^



Left to right: Dini, Dea, Naning, Adhi. Ada-ada aja, ya?

Tanpa terasa hari semakin sore dan petualangan hari ini pun diakhiri. Dengan badan full keringetan dan betis berkonde, kami balik ke bus dan sesampainya di penginapan, yang namanya mandi bener-bener terasa nikmat banget. Habis itu Sholat Maghrib, dan dinner bareng pastinya. Habis dinner ada acara seseruan bareng seangkatan dengan biang keroknya tentu saja Papi. Lucu banget deh. Tapi sedihnya ada beberapa temen yang sakit, jadi terpaksa mereka ngga ikut ketawa-ketiwi ama yang lain. Acara ditutup dengan nyanyi bareng lagu Laskar Pelangi dengan diiringi permainan gitar Adhi en Fikar. Terus jam 22.00 saatnya masuk kamar. Mungkin karena seharian jalan dan cape banget, alhasil jam 22.30 seluruh penghuni kamar yang saya tempati udah pada bablas ke alam mimpi. Padahal yang lain ada yang baru tidur jam 12 malem loh. Hehehehe.....

Hari berikutnya, pas jam 04.00, bertepatan azan Subuh , alarm hape saya bunyi. Jadi berdasarkan amanah dari temen-temen sebelum tidur, saya bangunin mereka satu-satu. Karena saya lagi ngga sholat, saat yang lain Sholat Subuh berjamaah saya ngga ikut dan menggunakan waktu untuk mandi. Setelah semua rapi, jam 06.30 kami beranjak keluar kamar untuk sarapan. Oya, sebelumnya kami memasukkan semua koper dan barang bawaan ke bus, soalnya sekalian check out. Dan petualangan hari ini adalah klimaks dari KKL. Kami akan mengeksplorasi Kebun Raya Cibodas dan tracking di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.
Perjalanan ke Cibodas memakan waktu 2-3 jam melewati jalur puncak. Jadi pemandangan yang sangat indah tersedia di depan mata kami hampir sepanjang perjalanan. Ngga setiap hari kan bisa melihat hamparan kebun teh? Tapi karena jalan yang berliku dan naik-turun, kepala saya jadi agak sedikit pusing. Alhasil saya memilih tidur aja. Sampai di Cibodas, banyak dari kami yang begitu turun langsung cari toilet. Secara hawanya dingiiinnnn.....

Ternyata Kebun Raya Cibodas adalah satu dari sekian banyak tempat indah yang pernah saya kunjungi sepanjang hidup. Berbeda dengan Kebun Raya Bogor yang koleksi tumbuhannya ditanam secara sistematis, koleksi tumbuhan Kebun Raya Cibodas yang kebanyakan adalah Gymnospermae disusun secara estetika. Nih bukti konkretnya.



Tapi jujur aja, saya ngga terlalu menikmati pemandangan yang amazing ini. Gimana engga? Pak Marsusi ngajakin kami semua manasik haji di sini. Apalagi dengan medan yang lebih parah daripada Kebun Raya Bogor. Saya ngga bisa bertahan untuk stay close sama Pak Marsusi. Temen-temen saya juga lama-lama pada misah karena cape. Yang bertahan cuma Octa, temen satu kelompok saya yang paling rajin sedunia. Sambil mencatat tiap kata dari Pak Marsusi, dia tetep bertahan mengekor beliau dari pintu masuk sampai pintu keluar. Hebat, ya!!

Selesai menikmati amazing-nya panorama kebun raya, kami istirahat sejenak untuk makan dan (bagi para pria) Sholat Jumat. Setelah itu tanpa membuang waktu kami langsung menuju pintu masuk kantor Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango yang letaknya pas di seberang Kebun Raya Cibodas. Kami nonton film tentang sejarah taman nasional ini dan kemudian dilanjutkan tracking menuju Telaga Biru yang artinya kami harus menempuh perjalanan menanjak setinggi 1,5 km. Ngga papa lah, demi menikmati pemandangan kami rela kok. Hehehehe..... Dan seperti biasa, ritual utama kalau mengunjungi tempat yang asyik segera kami laksanakan: foto-foto!! Dalam perjalanan turun dari Telaga Biru, ngga disangka-sangka hujan mulai turun. Selagi gerimis belum meningkat intensitasnya, kami segera mengenakan raincoat yang sudah tersedia di tas. Begitu menginjak pos tempat kami diberangkatkan tadi, breessss..... hujan langsung turun dengan deras. Semakin lama semakin menggila. Jadilah kami setengah lari menuju bus supaya ngga makin kebasahan.

Rangkaian acara KKL kami formally berakhir begitu kami kembali ke bus. Tapi rupanya kami belum pada puas kalau KKL ini ngga benar-benar diakhiri dengan belanja. Di mana lagi kalau ngga di Cihampelas yang emang center-nya obralan baju. Perdebatan alot antara kami dan pihak dosen (yang diwakili Mas Ayub-kalau ngga salah namanya-sebagai guide kami di bus) berbuah manis. Kami diizinkan belanja di Cihampelas. Walau cuma dikasih waktu satu jam, bukan berarti kami jadi ngga bersyukur kan? ^_^ Nah, lucunya, temen saya Kade si Ratu Mabuk tadi mendadak sehat wal afiat begitu turun dari bus untuk belanja. Kontradiktif banget deh, sama keadaannya kalau bus lagi jalan. Kalau di bus muntahnya paling parah, tapi kalau pas belanja, belanjaannya paling gila dan paling banyak. Ckckckckckck.....

70% perjalanan pulang ke Solo buat saya sama sekali ngga terasa. Soalnya gara-gara kecapean saya tidur pules di bus. Tapi pas kami sampai di Solo, tepatnya saat melewati kawasan Bandara Adi Sumarmo, ada lagi kejadian yang ngga bisa bikin saya nahan ketawa. Jadi ceritanya bus kami kan dibagi 2 ruangan yang dibatasi sebuah pintu geser. Waktu lewat kawasan bandara, bus melintasi polisi tidur dan bergoyang cukup heboh sehingga pintu geser tadi terbuka. Angin AC dari belakang berhembus masuk dengan membawa bau busuk yang beneran bikin mabuk darat. Tanpa bicara, temen saya yang lain, Celin, yang pada dasarnya udah pucet pasi dari tadi langsung buka tas kresek dan muntah. Usut punya usut, ternyata bau busuk itu berasal dari kentut Rio. Saya dan yang lain cuma bisa ketawa sembari geleng-geleng kepala.

Dan petualangan ini benar-benar berakhir ketika bus berhenti di depan gerbang UNS. Kami turun, mengemasi barang-barang dan menyongsong jemputan masing-masing yang udah menunggu. Walaupun KKL udah berakhir, tapi ternyata saya (dan pastinya semua member Biologi 07 juga) ngga pernah bisa lupa kenangan-kenangan lucu waktu KKL. Dan insya Allah berkat petualangan ini brotherhood angkatan 07 juga makin erat. Sampe lulus, sampe tua, sampe selamanya.

Tuh kan, bener, KKL emang 3 hari untuk selamanya!!

Sunday, December 21, 2008

Klise

Posted by Icha at 9:53 AM 1 comments
Ketika ditinggalkan, ketika berulang kali ditinggalkan,
aku hanya bisa ingat satu hal.

"Suatu hari nanti di masa depan, hati yang terluka pun akan menjadi kenangan indah".

Lalu aku tersenyum lagi.



Ketika aku ditemukan, untuk kesekian kalinya direngkuh,
aku juga hanya mengingat satu hal.

"Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang pergi lagi, ada yang kembali".

Tapi aku malah menangis.



Mungkin aku takut mereka yang datang akan pergi.
Mungkin aku takut mereka yang kembali akan menghilang.
Mungkin aku takut langit kembali jadi mendung.



Langit ini, aozora ini.....
dalam hitungan detik berubah warna.



Momoiro no sora.....
sampai kapan akan bertahan??





theme song for this entry: Konayuki (piano version) by Remioromen.
thanks to Arif-kun who has sent this song to me..... ^_^

Monday, December 15, 2008

Saya dan Hari Ini

Posted by Icha at 8:37 PM 2 comments
Hari ini saya belajar bahwa ketakutan sebesar apapun harus dihadapi. Karena hanya dengan cara itulah ketakutan akan terkalahkan. Ketakutan terbesar bukan apa yang kita takuti, tapi rasa takut untuk menghadapi ketakutan itu sendiri.

Hari ini saya belajar bahwa menjadi lebih baik bukan berarti harus melepaskan atribut diri sendiri. Yang terpenting adalah berusaha menjadi lebih baik semaksimal mungkin dengan apapun yang kita miliki. Menjadi lebih baik sesuai batas-batas diri sendiri, ngga perlu memaksakan diri untuk melampaui batas itu.

Hari ini saya belajar bahwa walaupun teman bukan segalanya, memiliki teman-teman yang mengerti sangat penting. Teman memahami, teman memaklumi, teman mengoreksi. Dan teman sejati selalu ingin temannya lebih baik.

Hari ini saya belajar bahwa saya tak bisa mengharapkan orang berubah sesuai keinginan saya. Yang bisa saya lakukan adalah menjadi apa yang terbaik yang bisa orang lihat dari diri saya. Saya tak bisa mengharapkan orang melihat dari sudut pandang saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah menempatkan diri saya pada sudut pandang orang lain.

Hari ini saya belajar bahwa jujur pada perasaan sendiri bukan sesuatu yang salah dan terkadang kita harus menunjukkan kejujuran itu. Ikuti kata hati dan temukan jawabannya.

Hari ini saya belajar harapan tak selalu jadi kenyataan. Tapi di atas semua itu, yang terpenting adalah apakah saat harapan tak terpenuhi, kita masih mampu berharap dan bermimpi.....

Thursday, December 11, 2008

Keep Holding On

Posted by Icha at 5:49 PM 0 comments
"Akhirnya, sampai titik nadir juga, Cha?"

Itu yang saya ucapkan pada diri sendiri menyadari kejenuhan yang baru terasa. Deadline laporan terus mengejar, tugas-tugas yang tanpa ampun, responsi yang sudah di depan mata, hingga ujian yang tinggal hitungan hari. Semuanya seperti membombardir saya pada waktu bersamaan.

Mmm..... kalau dipikir-pikir, hal-hal yang saya sebutkan di atas seakan jadi tradisi menjelang akhir semester. Kayanya ngga banget ya, tradisi kok modelnya nyeksa begini. Hehe..... Dan yang lebih aneh lagi, udah tau tradisi tapi kita yang menjalani tradisi itu seakan ngga hafal-hafal, jadi ujung-ujungnya ya jenuh terus tiap mau ujian.

Dan sebenarnya, diakui atau tidak pemicu kejenuhan saya bukan itu. Maksud saya bukan laporan, tugas, dan segala tetek-bengeknya. Tapi penyulutnya adalah segala masalah yang justru berasal dari luar kampus. Masalah perasaan, pertemanan, organisasi, sampai PMS. Hehe.... Dan ngga tau kenapa, pada saat-saat inilah Allah SWT ikut memberikan ujian.

Jadi, apa yang sebenarnya cuma tampak sebagai sesuatu yang sepele kadang jadi sesuatu yang lebay buat saya. Kesenggol dikit marah, kenapa dikit nangis. Ngga banget ya jadinya?

Kalau sudah begini, biasanya saya langsung men-dial nomer HP Mama dan curhat habis-habisan tentang pikiran yang lagi mbruwet. Tebak aja apa kata Mama.

"Yang bisa menentukan Mba mau seneng, mau sedih, mau semangat, mau jenuh, itu ya Mba sendiri. Allah ngga akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Jadi yang bisa menyemangati Mba ya diri Mba sendiri. Orang lain hanya memotivasi."

Selalu ini yang diucapkan Mama kalau saya lagi jenuh. Mama ngga nyuruh saya mengingat apa-apa. Ngga menyuruh saya mengingat orang tua kalau lagi malas belajar (karena biasanya orang-orang akan bilang, "Kok kamu males belajar sih? Kasian orang tua kamu yang udah bayarin kuliah mahal-mahal" bla bla bla bla). Mama juga ngga membandingkan saya dengan orang lain yang mungkin lebih semangat daripada saya. Mama cuma meminta saya melihat ke dalam diri saya dan membangun semangat itu mulai dari diri saya.

Inilah yang saya pelajari: mulai dari DIRI SENDIRI. Semua hal harus dimulai dengan niat kuat dari diri sendiri. Ketika saya ngga punya kemauan untuk menyemangati diri sendiri, Allah juga ngga akan mengubah diri saya yang tadinya loyo jadi semangat. Ketika saya punya niat dan kemauan untuk semangat, dilanjutkan dengan berdoa, saya percaya Allah 100% akan mendukung saya dan ikut menguatkan semangat yang sudah saya bangun.

Perasaan saya terhadap seseorang yang jauh di sana, masalah pertemanan yang kadang membuat saya jengkel, laporan, tugas, responsi, semua itu boleh jadi menghempaskan saya ke titik nadir. Tapi dengan niat dan semangat, saya yakin semua akan teratasi.

Sedetik, sehari, selangkah ke depan aku masih bertahan.
Tetap bertahan.

Ya Allah, tetaplah menemaniku.....

Monday, December 8, 2008

Kata Mama

Posted by Icha at 12:38 PM 0 comments
Jangan memandang dunia hanya dari satu sisi. Karena dunia adalah lingkaran (bulet malah ^_^). Jadi, pandang dari semua sudut, supaya kamu bisa menilai secara bijaksana, bisa melihat dari mana orang lain memandang dunia, dan bisa menempatkan dirimu sendiri.

Selalu dengarkan dan ikuti kata hati kamu. Tapi yang ngga boleh lupa, dengarkan juga saran dan pendapat orang-orang di sekeliling kamu. Lakukan apa yang menurut kamu baik. Karena saran yang membangun akan membuat kamu lebih maju.

Selalu ambil sisi positif dari semua kejadian, bahkan yang paling buruk sekalipun. Suatu saat hikmahnya baru akan kamu peroleh. Dan ambil segala pembelajaran dari kejadian itu karena dengan itu, kamu ngga akan terjatuh ke lubang yang sama.

Hari ini adalah hari esok yang kemarin kita cemaskan. Jadi jangan terlalu mencemaskan hari esok. Karena setelah kita menjalaninya, hari itu akan menjadi kemarin. Persiapkan saja sebaik-baiknya dan tetap berdoa pada Allah SWT.

Jangan pernah mengharapkan balasan kalau mau memberi apapun kepada orang lain. Ketika kita menolong, jangan mengharapkan ucapan terima kasih. Ketika kita minta maaf, jangan mengharapkan ucapan pemberian maaaf. Lakukan apa yang harus kita lakukan dengan IKHLAS. Karena suatu saat pertolongan Allah akan datang pada kita tanpa terduga.

Ngga ada gunanya menimpan dendam. Ketika kita disakiti, kembalikan semua pada Allah. Karena Allah (dan hanya Allah-lah) yang berhak mengadili mereka. Dan balasan atas perbuatan mereka tidak perlu berasal dari tangan kita.

Orang menanam akan menuai. Jadi jangan pernah menanam sesuatu yang buruk karena imbas keburukan itu akan kembali pada kita. KARMA itu ada!!

Friday, December 5, 2008

In Memoriam: Opa

Posted by Icha at 5:17 PM 0 comments
Tidak seperti hari-hari biasanya, dua hari yang lalu (Kamis, 3 Desember 2008) saya duduk agak lebih lama seusai sholat maghrib. Masih dengan memakai mukena, saya duduk di atas sajadah dan membaca surat Yasin khusus untuk almarhum Opa. Ya, hari itu adalah hari ulang tahun beliau dan sejak meninggal satu setengah tahun yang lalu, saya selalu mengirimkan surat Yasin sebagai doa spesial di hari ulang tahun beliau.

Sejak Opa meninggal pada bulan Mei 2007 lalu, Oma dan kami semua para anak dan cucu beliau merasa sangat kehilangan seseorang yang berharga buat keluarga besar kami. Terutama saya dan para sepupu. Bagi kami bertujuh, Opa merupakan sosok yang menjadi idola dan tentu saja menjadi kakek yang sangat menyayangi kami. Tidak ada kenangan kami bersama Opa yang tidak memorable.

Saya dan enam sepupu yang lain sejak kecil sangat dekat dengan Opa. Opa tidak pernah protes kalau kami bertujuh berkumpul dan bikin seluruh rumah bising oleh teriakan dan pertengkaran kami. Opa juga selalu melihat raport kami bergiliran dan mengomentari isinya. Beliau selalu mengungkapkan ketidakpuasannya kalau ada di antara kami yang tidak dapat rangking, lalu menasihati supaya pada penerimaan raport mendatang nilai kami jadi lebih baik. Opa juga sering mengajak kami berlibur ataupun makan bersama di restoran.

Opa adalah inspirator pribadi saya. Saya belajar banyak sekali dari beliau. Mama sering bercerita tentang perjuangan beliau bersekolah sampai menjadi seorang dokter. Opa memang berasal dari keluarga yang notabene kurang mampu. Tapi semangat dan keinginan beliau untuk menjadi lebih maju membuat beliau tetap berjuang untuk bisa bersekolah tinggi. Maka tak heran, di antara saudara-saudaranya, bisa dibilang taraf hidup Opa yang paling baik.

Opa juga yang membuat saya bercita-cita untuk menjadi asisten praktikum sejak masuk kuliah. Itu karena Mama sering bercerita bahwa semasa kuliah Opa juga mencari penghasilan dengan cara menjadi asisten dosen mata kuliah Anatomi. Padahal mata kuliah Anatomi terbilang sulit bagi mahasiswa kedokteran. Saya tak heran mandengar Opa bisa sukses menjadi asisten. Opa memang pandai dan tekun belajar. Setiap kali mendengar cerita itu, tekad saya untuk menjadi asisten praktikum semakin kuat. Semoga saja saya bisa menjadi seperti Opa yang bisa menularkan ilmunya bagi mahasiswa lain. ^_^

Di mata kami, anak dan cucu beliau, Opa merupakan leader keluarga yang luar biasa. Beliau bisa selalu menjaga silaturahmi dengan anggota keluarga besar yang jauh. Kalau diistilahkan, beliau bisa merangkul mereka semua sehingga Opa menjadi sosok yang sangat dihormati. Kebetulan Opa juga terhitung dituakan. Saya masih ingat ketika diadakan pesta ulang tahun Opa di Bogor. Sepertinya tak ada satupun yang mau melewatkan pesta untuk Opa. Sosok Opa yang humoris dan suka bercanda, dalah satu dari sekian banyak kelebihan beliau. Opa sering menciptakan istilah-istilah baru yang lucu dan akhirnya jadi trademark kami semua. Opa juga sangat kebapakan. Inilah yang mungkin paling tidak bisa dilupakan oleh Mas Elang dan Tiza. Sejak ibu mereka meninggal, mereka ikut Opa dan Oma. Jadilah Opa dan Oma seperti orang tua kandung mereka sendiri.

Entah kenapa setelah beliau sekarang tak ada saya justru makin merasakan kehadiran beliau dalam diri Mama dan anak-anaknya yang lain. Setelah Opa meninggal, otomatis Pakde (kakaknya Mama) mengambil alih kepemimpinan keluarga besar. Saat memimpin rapat keluarga saya merasa Opa hadir dalam sifat pemimpin Pakde. Kalau melihat Mama bergaul dengan anggota keluarga yang lain, saya juga merasakan sifat penyayang Opa tercermin dalam diri Mama. Dengan Om saya pun begitu. Ketekunan Opa menurun semua padanya. Tak heran ia jadi dokter yang juga sangat sukses sekarang. Sedangkan tante saya mendapatkan gen kecerdasan Opa. Mama sering bercerita bahwa Tante mengikuti ujian SPMB (waktu itu namanya UMPTN) di rumah sakit dan tetap bisa lolos masuk FK UGM.

Meski begitu ada juga masa-masa saya sering bentrok dengan Opa. Perbedaan generasi dan cara pandang membuat kami jadi sering berbenturan. Tapi saya tahu dengan pasti bahwa Opa tetap menyayangi saya. Hanya saja mungkin caranya tak bisa saya pahami. Namun tetap saja saya menyesal kenapa dulu harus ada saat-saat kami tidak akur.

Opa meninggal beberapa hari sebelum saya mengikuti ujian akhir sekolah (UAS). Pada saat pemakaman beliau yang dilaksanakan di Purwokerto, alhamdulillah banyak yang hadir dan mendoakan beliau. Kami tujuh bersaudara sepupu pun hadir memberi penghormatan terakhir. Dia antara kami bertujuh, saya yang menangis paling..... apa ya istilahnya? Kejer kali ya? Pokoknya tersedu-sedu sekali. Apalagi waktu jenazah Opa dimasukkan ke liang lahat. Wah, ngga tahan untuk ngga nangis pokoknya. Ketika kembali ke rumah pun begitu. Rasanya ada yang hilang. Tapi pelang-pelan kami sekeluarga bisa mengikhlaskan. Karena memang beliau sudah lama sakit. Jadi mungkin inilah jalan yang terbaik untuk beliau supaya penderitaan beliau tidak berlarut-larut.

Tapi entah kenapa, walaupun sudah tak ada, saya tetap merasa Opa masih ada bersama saya. Usai ujian sampai menunggu pengumuman kelulusan saya merasa masih didampingi Opa. Dan dua hari sebelum saya dinyatakan lulus, barulah saya merasa beliau sudah benar-benar pergi. Tapi saya tidak merasa sedih karena entah kenapa saya tahu Opa sudah merasa lega dan damai. Mungkin memang Opa ingin memastikan saya lulus sebelum pergi. Ketika saya menjajal peruntungan dengan mengikuti SPMB untuk yang kedua kalinya, saya juga merasakan hal yang sama. Satu hari sebelum pengumuman, saya bermimpi Opa mengacak-acak rambut saya dengan penuh sayang dan tersenyum bangga pada saya. Setelah itu beliau pergi. Ketika bangun, saya menangis dan sadar bahwa Opa tak pernah sekalipun tak merasa bangga pada saya.

Jadi, Opa, Icha hanya ingin bilang kalau Icha sangat sayang pada Opa. Semoga Opa selalu tenang dan diberi kedamaian. I love you and I miss you, Opa.....


*Ini video clip lagu Slipped Away dari Avril Lavigne. Lagu ini ditulis Avril khusus untuk mendiang kakeknya. Jadi, lagu ini juga akan saya persembahkan untuk Opa. Once again, I miss you, Opa.....

 

Confessions of A Not-It Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea